Diam-Diam BMKG Operasi Modifikasi Cuaca di Langit Danau Toba, Ada Apa?

22 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Sumatra Utara. Hal itu tidak lain untuk menjaga ketersediaan cadangan air sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau serta fenomena El Nino pada tahun 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa optimalisasi tersebut juga menjadi perhatian dari Presiden RI Prabowo Subianto terhadap ketahanan air nasional. Ia menekankan bahwa pihaknya terus memperkuat infrastruktur pendukung, seperti radar cuaca, untuk mendiagnosis kondisi atmosfer secara akurat sebelum penyemaian awan dilakukan.

"Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses," ujarnya dalam keterangan di situs resmi, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Peningkatan frekuensi modifikasi cuaca itu tidak terlepas dari tantangan perubahan iklim yang diprediksi akan membuat musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Fasilitas OMC diprioritaskan untuk menjaga debit bendungan guna mendukung sektor energi dan pertanian, serta mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

"OMC pasti akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ke depan, BMKG siap terus memberikan dukungan penuh untuk melaksanakan operasi pengelolaan air sebaik-baiknya," kata Faisal.

Rangkaian operasi di wilayah Danau Toba tersebut dijadwalkan berlangsung selama 25 hari, mulai dari 9 April hingga 3 Mei 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyebutkan bahwa tim di lapangan telah melakukan puluhan sorti penyemaian awan guna memicu hujan di area tangkapan air tersebut.

"Hingga 29 April 2026, operasi telah berjalan selama 21 hari dengan capaian 33 sorti penyemaian awan. Saat ini masih tersisa sekitar empat hari pelaksanaan untuk mengoptimalkan capaian operasi," ungkap Seto.

Operasi tersebut merupakan hasil sinergi antara BMKG dengan Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Di lain sisi, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Fahmi Hidayat menyampaikan bahwa teknologi ini sangat krusial dalam menjamin kontinuitas sumber daya air permukaan bagi kebutuhan industri maupun domestik.

"Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumber daya air permukaan guna memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi, domestik, hingga industri. Dukungan OMC ini sangat membantu dalam memastikan ketersediaan air di waduk dan tampungan yang kami kelola," jelas Fahmi.

Hingga saat ini, capaian kegiatan modifikasi cuaca tersebut dilaporkan telah mencapai 86,78% dari total target. Dengan begitu, BMKG memastikan pelaksanaan OMC berjalan efektif dalam meningkatkan tinggi muka air danau tanpa menimbulkan risiko bencana banjir atau longsor di wilayah pemukiman warga sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Kamis (30/04/2026).  (Dok. BMKG)Foto: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Kamis (30/04/2026). (Dok. BMKG)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|