
Warga Kalidadap, Selopamioro, Imogiri, Bantul saat menyedot air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari belum lama ini. Aktivitas ini rutin dilakukan warga saat musim kemarau lantaran sumber air di wilayahnya minim. Dokumentasi Istimewa
Musim kemarau membuat urusan mendapatkan air bersih menjadi pekerjaan rutin bagi warga Kalidadap I dan Kalidadap II, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Setiap hari, mereka harus bolak-balik ke Sendang Wonosari untuk menyedot air menggunakan selang yang terhubung hingga ke rumah. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Yosef Leon.
Matahari siang menyengat ketika Sagi berjalan menuju Sendang Wonosari di kawasan Selopamioro, Imogiri. Di tangannya tergenggam ujung selang yang terhubung ke rumahnya. Hari itu bukan kali pertama ia datang ke sumber mata air tersebut. Sejak musim kemarau tiba, aktivitas itu menjadi rutinitas yang harus dijalani hampir setiap hari.
Bagi warga Kalidadap II, Sendang Wonosari bukan sekadar sumber air. Tempat itu menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup ketika sumur-sumur warga mulai kehilangan debit air bahkan mengering akibat kemarau panjang.
Lokasi sendang memang tidak terlalu jauh dari rumah Sagi. Namun perjalanan yang harus dilakukan berulang kali setiap hari tetap menjadi pekerjaan yang melelahkan. Dalam sehari, ia bisa bolak-balik hingga tiga kali untuk memastikan kebutuhan air keluarganya terpenuhi.
“Ini menyedot air pakai selang sudah sejak tahun 70-an dan hanya saat musim kemarau saja. Karena itu saat ini jumlah selangnya mencapai ratusan,” kata Sagi.
Pemandangan ratusan selang yang membentang dari sendang menuju rumah-rumah warga menjadi ciri khas saat kemarau tiba. Setiap selang diberi tanda khusus agar tidak tertukar dengan milik warga lain. Dari sumber air itu, air dialirkan langsung menuju bak penampungan di rumah masing-masing.
Tradisi memanfaatkan sendang sebagai sumber air bersih sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Hingga kini cara tersebut masih menjadi solusi utama ketika sumber air lain tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan warga.
Menurut Sagi, kondisi geografis Kalidadap yang berada di kawasan perbukitan menjadi tantangan tersendiri. Tanah yang didominasi batuan membuat pembangunan sumur tidak mudah dilakukan. Bahkan ketika sumur berhasil dibuat, ketersediaan air belum tentu terjamin sepanjang tahun.
Warga sebenarnya pernah memperoleh bantuan sumur bor dari pemerintah. Namun fasilitas tersebut saat ini tidak dapat dimanfaatkan karena mesin pompa mengalami kerusakan.
“Di sini ada sumur bor dari pemerintah tapi mati mesinnya, terus kalau mau buat sumur juga susah karena tanahnya banyak bebatuan. Karena itu warga memanfaatkan Sendang Wonosari ini,” ujarnya.
Kondisi serupa dialami warga Kalidadap I. Lestari mengaku sudah dua kali datang ke sendang pada hari itu untuk menyedot air. Saat musim kemarau, aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitas keluarga yang sulit dihindari.
Biasanya warga memilih menyedot air pada pagi dan siang hari. Pasalnya, pada sore hingga malam hari debit air dari Sendang Wonosari lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pengairan lahan pertanian.
“Yang jelas warga itu kalau menyedot air saat pagi dan siang hari, karena saat sore sampai malam airnya untuk mengairi sawah,” kata Lestari.
Air yang berhasil dibawa ke rumah tidak langsung digunakan seluruhnya. Warga menyimpannya dalam ember maupun bak penampungan sebagai cadangan untuk kebutuhan malam hari.
Air dari sendang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, mencuci, memasak hingga kebutuhan air minum. Karena itu keberadaan sumber mata air tersebut memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Kalidadap.
“Kalau butuh air malam hari ya tidak masalah, kan sudah menampung air di ember-ember,” ujarnya.
Meski telah terbiasa menjalani rutinitas tersebut, warga berharap kondisi itu tidak berlangsung selamanya. Mereka menginginkan jaringan distribusi air bersih dapat menjangkau permukiman sehingga tidak perlu lagi menyedot air secara manual saat musim kemarau.
“Ya kalau saya harapannya air bisa mengalir ke rumah-rumah, jadi tidak perlu menyedot air seperti ini lagi,” kata Lestari.
Panewu Imogiri, Slamet Santosa, menjelaskan Kalidadap merupakan wilayah perbukitan yang berada di kawasan tinggi dan relatif terpencil. Bersama Padukuhan Srunggo, kawasan tersebut berada di ujung selatan Kapanewon Imogiri dan berbatasan langsung dengan wilayah Purwosari, Gunungkidul.
Menurut Slamet, fenomena warga memanfaatkan sumber air dari luar wilayah Kalidadap secara masif baru terjadi pada musim kemarau tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, masyarakat masih mengandalkan sumber air lokal yang dipompa menuju bak penampungan sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga.
“Karena tahun-tahun sebelumnya mereka masih menggunakan sumber air yang ada di wilayah itu, di Kalidadap,” ujarnya.
Ia menegaskan pemanfaatan sumber air lintas wilayah tidak menjadi masalah selama dilakukan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik. Terlebih jika penggunaan air ditujukan untuk kepentingan sosial dan kebutuhan dasar masyarakat.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan air bersih di kawasan tersebut. Pemerintah bersama kelompok masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, hingga warga telah membangun sistem pompanisasi dan sumur bor untuk meningkatkan akses air bersih.
Namun kemarau 2026 dinilai lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 wilayah Imogiri belum memerlukan bantuan distribusi air bersih, tahun ini permintaan dropping air sudah mulai muncul sejak Juli.
Kondisi itu menjadi perhatian pemerintah kapanewon karena kebutuhan air bersih diperkirakan akan terus meningkat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Karena itu, Slamet berharap bantuan pembangunan sumur bor dan infrastruktur air bersih dapat terus ditingkatkan agar warga di kawasan perbukitan tidak lagi harus mengandalkan cara-cara darurat untuk mendapatkan air.
Bagi warga Kalidadap, harapan tersebut sederhana. Mereka ingin air bersih dapat mengalir langsung ke rumah tanpa harus bolak-balik menuju sendang. Sebab selama kemarau masih datang dan infrastruktur belum tersedia, perjuangan mendapatkan air akan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































