Dana Darurat Gunungkidul Rp8,6 Miliar Utuh, Baru Terpakai Rp459 Juta

12 hours ago 6

Dana Darurat Gunungkidul Rp8,6 Miliar Utuh, Baru Terpakai Rp459 Juta

Foto ilustrasi uang - Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul masih memiliki cadangan anggaran darurat yang cukup besar untuk menghadapi berbagai kebutuhan mendesak sepanjang 2026. Dari total Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp8.643.246.563 yang dialokasikan dalam APBD 2026, hingga awal Juli baru Rp459,3 juta yang telah digunakan.

Anggaran tersebut disiapkan untuk membiayai berbagai kebutuhan darurat, mulai dari penanganan kebencanaan hingga pemberian insentif bagi ternak milik warga yang mati akibat serangan penyakit.

Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Gunungkidul, Putro Sapto Wahyono, mengatakan BTT merupakan dana cadangan yang sengaja disediakan pemerintah daerah untuk menghadapi kondisi yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Menurut dia, keberadaan anggaran tersebut penting karena tidak semua kebutuhan dapat direncanakan secara rinci saat penyusunan APBD.

“Sudah ada pagunya dan alokasi bersifat cadangan untuk kegiatan yang mendesak,” kata Putro, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan penggunaan BTT memiliki mekanisme khusus dan tidak dapat dicairkan secara langsung. Dana hanya dapat digunakan untuk kegiatan yang masuk kategori darurat atau mendesak, berada di luar kendali pemerintah daerah, serta tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Karena itu, setiap pengajuan penggunaan anggaran harus melalui proses verifikasi oleh organisasi perangkat daerah (OPD) yang berwenang sebelum pencairan dilakukan.

Putro menuturkan sebagian besar penggunaan BTT selama ini memang berkaitan dengan penanganan dampak bencana alam. Selain itu, dana juga digunakan untuk membantu masyarakat yang mengalami kerugian akibat kematian ternak karena penyakit tertentu.

“Hingga sekarang sudah tersalurkan sekitar Rp459,3 juta. Anggaran masih mencukupi dan siap dipergunakan saat dibutuhkan,” ujarnya.

Dari total realisasi tersebut, sebagian digunakan untuk mendukung penanganan berbagai kejadian bencana yang terjadi di wilayah Gunungkidul pada awal tahun.

Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengungkapkan hingga akhir April 2026 tercatat sebanyak 292 kejadian bencana di wilayah setempat.

Kejadian tersebut didominasi dampak cuaca ekstrem sebanyak 142 kasus dan tanah longsor sebanyak 124 kejadian. Selain itu, terdapat enam kejadian banjir, 13 kebakaran, serta tujuh kejadian yang berkaitan dengan gempa bumi.

Menurut Nanang, berbagai kejadian tersebut menimbulkan kerugian material dan memerlukan penanganan cepat dari pemerintah daerah.

“Hingga sekarang, anggaran BTT untuk penanganan bencana yang terpakai sebesar Rp224,8 juta,” katanya.

Memasuki musim kemarau, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun intensitas bencana hidrometeorologi cenderung menurun dibanding musim hujan.

Nanang menilai ancaman yang perlu diwaspadai saat ini bukan hanya krisis air bersih, tetapi juga meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan akibat kondisi cuaca yang kering.

Ia menambahkan kebakaran sampah yang dipicu aktivitas pembakaran terbuka masih sering ditemukan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas karena vegetasi dan lahan dalam keadaan kering.

“Kebakaran sampah sering terjadi karena aktivitas pembakaran sampah. Ini harus diwaspadai karena saat terjadi kebakaran, upaya pemadaman lebih sulit, makanya harus berhati-hati saat beraktivitas yang bersinggungan dengan api,” katanya.

Dengan sisa anggaran BTT yang masih mencapai lebih dari Rp8 miliar, Pemkab Gunungkidul memastikan kesiapan fiskal tetap terjaga untuk menghadapi berbagai kondisi darurat yang berpotensi muncul hingga akhir tahun, baik akibat bencana alam maupun kebutuhan mendesak lainnya yang memerlukan respons cepat dari pemerintah daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|