Crossway di Gedangsari Gunungkidul Kerap Terendam, Sungai Dikeruk

3 hours ago 1

Crossway di Gedangsari Gunungkidul Kerap Terendam, Sungai Dikeruk Proses pengerukan aliran kali di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, untuk mengurangi risiko banjir di kawasan tersebut, Selasa (15/4/2026). - Istimewa - Humas Pemkab Gunungkidul

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Akses crossway di aliran sungai di Kalurahan Hargomulyo, Gedangsari, kerap terendam banjir saat hujan deras, sehingga mengganggu aktivitas warga hingga anak sekolah yang melintas di jalur tersebut.

Kondisi ini sudah berlangsung lama dan berdampak langsung pada akses menuju SMP Negeri 2 Gedangsari yang berada di sekitar lokasi.

Panewu Gedangsari, Eko Krisdiyanto, menyebut genangan terjadi akibat sedimentasi yang telah menumpuk selama puluhan tahun.

“Memang butuh pengerukan karena endapan lumpur sudah tinggi sehingga seringkali terjadi banjir saat hujan deras,” katanya, Rabu (15/4/2026).

Saat crossway terendam, warga dan pelajar tidak bisa melintas secara langsung dan harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh.

Kondisi ini dinilai berisiko jika tetap dipaksakan menyeberang, terutama saat arus sungai meningkat.

“Kalau nekat menyeberang malah berbahaya, makanya harus lewat jalan yang aman, meski lebih jauh,” ujar Eko.

Sedimentasi di aliran sungai disebut sudah terjadi sekitar 36 tahun dan memperparah potensi luapan air saat curah hujan tinggi.

Pengerukan Sungai untuk Kurangi Risiko

Sebagai langkah penanganan, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) mulai melakukan pengerukan di aliran sungai tersebut.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan pengerukan dilakukan sepanjang kurang lebih 100 meter.

“Kami sudah meninjau ke lokasi yang akan dikeruk,” katanya.

Selain pengerukan, program juga mencakup normalisasi pertemuan arus agar tidak langsung menghantam badan crossway.

Pekerjaan ini ditargetkan selesai dalam waktu sekitar 10 hari.

“Tujuannya agar aliran bisa lebih lancar karena air bisa masuk kolong crossway lebih cepat sehingga tidak terjadi genangan,” jelasnya.

Pemerintah juga mengingatkan bahwa penanganan banjir tidak hanya bergantung pada pengerukan.

Masyarakat diminta aktif menjaga kebersihan aliran sungai dan tidak menanam tanaman di badan sungai.

Penanaman seperti rumput kolonjono dinilai mempercepat sedimentasi dan memperbesar risiko banjir.

“Aliran kali jangan digunakan untuk menanam karena mempercepat proses sedimentasi sehingga bisa menimbulkan banjir,” kata Endah.

Dengan langkah pengerukan dan kesadaran masyarakat, diharapkan genangan di crossway Gedangsari dapat berkurang dan aktivitas warga, termasuk akses sekolah, kembali lancar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|