Vaksin (ilustrasi). Para peneliti mengembangkan vaksin baru untuk melawan hantavirus.
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengintensifkan surveilans terhadap kasus demam yang disertai gangguan pernapasan akut, termasuk menekan populasi tikus. Hal itu guna mengantisipasi penyebaran penyakit hantavirus di wilayah Jateng.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo, mengatakan, sejauh ini belum ada temuan penyakit hantavirus di wilayah Jateng. "Alhamdulillah di Jateng belum ada kasus hantavirus untuk tahun 2026. Semoga tidak ada," ungkapnya ketika diwawancara, Selasa (19/5/2026).
Dia menerangkan, pada 2025, Dinkes Jateng sempat menemukan satu kasus hantavirus. "Kalau dari hasil riset BRIN Pestorita 2023-2024 di Demak dan Semarang, dari 238 kasus leptospirosis, 49 positif hantavirus jenis Seoul virus (SEOUL)," ujar Heri.
Kendati demikian, Heri menyebut, kala itu penanganan mereka yang terinfeksi hantavirus tidak dengan metode karantina. "Penularannya kan via tikus juga," ucapnya.
Dengan adanya kekhawatiran penyebaran hantavirus saat ini, Heri mengatakan pihaknya telah menyiapkan beberapa upaya pencegahan. "Pertama, penguatan surveilans dan deteksi dini. Dinkes Jateng meningkatkan pengawasan terhadap laporan kasus demam yang disertai gangguan ginjal atau pernapasan akut, yang merupakan gejala khas infeksi hantavirus," ucapnya.
Kedua, pengendalian vektor (rodent control). "Mengingat penularan terjadi melalui droplet atau kontak dengan ekskresi tikus (urine, kotoran, air liur), fokus utama adalah menekan populasi tikus di area berisiko tinggi," kata Heri.

3 weeks ago
30















































