Karawang, CNBC Indonesia - Perum Bulog akan memanfaatkan kemasan lama yang belum terpakai, untuk distribusi beras bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini dilakukan agar penyaluran tidak terhambat, sekaligus mengoptimalkan stok kemasan yang masih tersedia, di tengah kondisi melonjaknya harga bijih plastik.
Direktur Pengadaan Bulog Prihasto Setyanto menyebut penggunaan kemasan lama ini telah mendapat persetujuan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
"Sesuai perintah dari Badan Pangan Nasional, kita boleh menggunakan kemasan sisa-sisa yang lama," kata Prihasto saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, kemasan lama tersebut masih tersisa dalam jumlah besar dan siap digunakan untuk mempercepat distribusi.
"Sisa kemasan yang lama kan masih banyak tuh, sisa kemasan-kemasan yang lama. Sisa kemasan yang lama itu tinggal kita labelin saja. Yang penting segera ini digunakan untuk distribusi ke masyarakat, untuk menstimulus ekonomi di bawah. Segera di-distribusikan," ujarnya.
Karena penyaluran nantinya untuk sementara akan menggunakan sisa kemasan lama, Prihasto pun mengingatkan, label kadaluarsa yang tertera pada kemasan tidak mencerminkan isi beras. Hal ini sejalan karena kemasan lama umumnya mencantumkan tanggal lama, karena diproduksi pada 2023-2024.
"Cuma kadang kan kemasan lama itu kan, jangan salah ya, di kemasan lama itu kan kadang.. namanya juga kemasan lama, kemasan tahun 2023, 2024, namanya kemasan lama, kan tertulis di situ expired date tahun 2024. Jadi bukan berasnya yang expired, ini cuma kemasannya saja pakai kemasan lama," tegasnya.
Ia memastikan beras yang disalurkan tetap baru, sementara penggunaan kemasan lama menjadi solusi sementara di tengah keterbatasan kemasan.
"Berasnya beras baru. Cuman karena kita kekurangan kemasan, kita menggunakan kemasan lama. Makanya disarankan agar tetap menggunakan stiker," lanjut dia.
Bulog juga menegaskan distribusi tidak boleh terhambat hanya karena persoalan kemasan, terlebih stok kemasan lama masih tersedia dalam jumlah besar.
"Sisa yang lama-lama, masih cukup banyak. Masih banyak. Masih ada jutaan lembar," ungkap Prihasto.
"Pokoknya segala yang penting sekarang jangan sampai terhambat oleh ketersediaan kemasan. Jadi, kemasan-kemasan yang ada silahkan dipakai," tambahnya.
Kebijakan ini akan diterapkan untuk distribusi beras bantuan pangan maupun beras SPHP, dengan penekanan, kualitas beras tetap terjaga meski menggunakan kemasan lama.
(dce)
Addsource on Google

















































