Bukan Siklus Biasa, 'Bom Waktu' Super El Nino Siap Guncang Iklim Global

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, COLORADO -- Ilmuwan memprediksi El Nino tahun ini akan menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan satelit dilakukan pada 1982. Para ilmuwan iklim dari University of Colorado Boulder mengamati fenomena suhu di Samudra Pasifik.

Pengamatan dilakukan setelah badan atmosfer dan kelautan Amerika Serikat (AS), National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), merilis laporan yang memprediksi kemungkinan munculnya pola "Super El Nino" pada pertengahan hingga akhir 2026.

Meskipun istilah "Super El Nino" bukan istilah teknis resmi dalam literatur meteorologi, fenomena ini merujuk pada peristiwa El Nino dengan kekuatan ekstrem yang mampu mengacaukan pola cuaca global secara signifikan, mulai dari kekeringan hebat di Asia Tenggara hingga banjir di wilayah AS.

Setelah berada dalam fase La Nina selama beberapa bulan terakhir, bumi saat ini berada dalam kondisi ENSO netral. Namun, data satelit menunjukkan panas mulai menumpuk di bawah permukaan Samudra Pasifik tropis.

Fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) merupakan fluktuasi alami suhu permukaan laut di Pasifik yang memiliki efek riam (ripple effect) terhadap sirkulasi atmosfer global.

Dosen Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan di University of Colorado Boulder, Kris Karnauskas, menjelaskan ENSO memiliki kemampuan unik untuk "mendikte" cuaca dalam jangka waktu lama.

“ENSO mencoba mengunci kita ke dalam pola cuaca yang bertahan selama beberapa bulan. Semuanya bermula dari lautan dan kemudian menciptakan semacam efek riam (ripple effect) terhadap cuaca di seluruh dunia," kata Karnauskas seperti dikutip dari situs resmi University of Colorado Boulder, Jumat (15/5/2026).

Meskipun bersifat global, El Nino bukan fenomena yang seragam. Karnauskas menekankan dampaknya sangat regional dan berbeda-beda di setiap titik geografis.

Di AS, misalnya, El Nino biasanya membawa suhu lebih hangat di bagian barat. Wilayah barat daya cenderung mengalami peningkatan curah hujan signifikan, sementara wilayah timur laut justru menghadapi kondisi yang jauh lebih kering.

“Ini bukan efek yang konsisten secara global. Karakteristiknya sangat bergantung pada wilayah masing-masing,” tambahnya.

Prediksi dari berbagai model iklim telah memicu spekulasi di media massa, termasuk laporan yang menyebutkan El Nino kali ini bisa menjadi yang terkuat dalam satu abad terakhir. Sebelumnya dilaporkan Pusat Prediksi Iklim (CPC) NOAA mengeluarkan peringatan serius mengenai kemunculan fenomena El Nino yang berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Data terbaru yang dirilis pada Mei 2026 menunjukkan peluang besar terjadinya "Super El Nino" yang diprediksi akan memuncak pada akhir tahun hingga awal 2027.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|