Jakarta, CNBC Indonesia - Angka inflasi tahunan Februari 2026 tercatat 4,76%. Sekilas angka ini terlihat cukup tinggi, namun Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan ada faktor teknis yang membuat inflasi tampak melonjak dibandingkan tahun lalu.
Secara bulanan, tekanan harga justru relatif terkendali. Inflasi Februari 2026 tercatat 0,68% month-to-month, mencerminkan kenaikan yang masih dalam pola musiman menjelang Ramadan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa lonjakan tahunan terutama dipengaruhi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
"Inflasi Februari 2026 secara bulan ke bulan relatif baik 0,68%. Namun secara tahunan 4,76% dan yang paling memberikan andil terbesar adalah dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga," ujarnya dalam rakor inflasi Selasa (3/3/2026).
Faktor utamanya bukan kenaikan tarif baru, melainkan normalisasi setelah diskon besar yang diberikan pemerintah pada awal 2025.
"Ini karena sudah adanya normalisasi harga listrik bulan Februari 2026 dibandingkan Februari tahun lalu. Secara year-on-year kelompok ini inflasi 16,19% dan andilnya 2,26%," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pada Februari tahun ini tidak ada perubahan tarif listrik secara bulanan. Kenaikan tahunan semata-mata akibat tidak adanya diskon tarif di tahun ini.
"Di bulan Februari 2026 tidak ada kenaikan tarif listrik. Tetapi Januari-Februari 2025 ada diskon listrik 50% bagi pelanggan di bawah 2.200 watt, sehingga Februari 2025 terjadi deflasi year-on-year," katanya.
BPS mencatat pada Februari 2025 terjadi deflasi tahunan minus 0,09% akibat kebijakan diskon tersebut. Rendahnya basis Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun lalu membuat perbandingan tahun ini tampak melonjak.
"Inflasi year-on-year dihitung dari IHK Februari 2026 sebesar 110,50 dibandingkan Februari 2025 sebesar 105,48. Perubahan inilah yang menjadi 4,76%," tutur Amalia.
Ia menambahkan, jika tarif listrik tidak pernah didiskon, maka indeksnya relatif datar sepanjang awal 2026.
"Kalau tidak ada diskon listrik dan harganya tetap normal, IHK tarif listrik adalah 100,64 dan tidak berubah pada Januari maupun Februari 2026," tegasnya.
Dengan demikian, BPS memastikan bahwa angka inflasi tahunan kali ini lebih mencerminkan efek statistik ketimbang lonjakan harga baru di lapangan.
"Yang 4,76% itu mayoritas memang andil dari normalisasi tarif listrik dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama," pungkas Amalia.
(fab/fab)
Addsource on Google
















































