Dirut Krakatau Steel yang juga Ketua Umum IISIA Akbar Djohan (kanan) bersama Menperin Agus Gumiwang (kiri).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) Akbar Djohan kembali terpilih memimpin The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) untuk periode 2026–2030. Ia menargetkan industri baja Indonesia mampu bersaing di pasar global dengan ekosistem yang lebih kuat.
Akbar menegaskan penguatan industri baja dari hulu hingga hilir menjadi kunci. Transformasi juga diarahkan melalui konsep Blue-Green Industry yang menggabungkan digitalisasi dan keberlanjutan.
“Kami bertekad menjadikan IISIA sebagai rumah yang inklusif dan solid bagi seluruh pelaku industri baja nasional, baik dari sektor hulu hingga hilir. Fokus kami pada 2026-2030 adalah membangun fondasi bangsa yang kuat melalui penguatan solidaritas antaranggota dan peningkatan daya saing di kancah internasional,” kata Akbar dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Meski produksi baja nasional tumbuh rata-rata 14 persen per tahun, utilisasi industri masih berada di level 52,7 persen. Tekanan juga datang dari praktik dumping impor yang mengganggu pasar domestik.
Untuk itu, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) bersama IISIA memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui penerapan SNI wajib. Langkah ini untuk menjaga pasar dalam negeri tetap kompetitif.
“Industri baja adalah tulang punggung pembangunan nasional. Melalui penguatan hilirisasi dan produk bernilai tambah tinggi, kita tidak hanya akan berjaya di negeri sendiri, tetapi juga menjadi pemain yang disegani di pasar internasional,” ujar Akbar.
Lewat kepemimpinannya di IISIA, integrasi industri baja dari hulu ke hilir akan dipercepat. Tujuannya memastikan pasokan baja untuk kebutuhan infrastruktur dan manufaktur tetap terjaga.
Akbar juga menekankan dua fokus utama, yakni optimalisasi aset dan transformasi teknologi. Strategi ini diarahkan untuk menekan ketergantungan impor bahan baku sekaligus memperkuat efisiensi industri.
“Transformasi digital dalam proses produksi dan penguatan rantai pasok domestik adalah kunci agar industri baja kita efisien dan memiliki daya tawar tinggi di pasar ekspor,” ujar Akbar.
Pengukuhan Akbar berlangsung di Jakarta, Jumat (10/4/2026) dan dipimpin Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Pemerintah menilai IISIA menjadi mitra strategis dalam memperkuat industri baja nasional.
Agus mencatat subsektor industri logam dasar tumbuh 15,71 persen pada 2025. Indonesia kini berada di peringkat ke-13 produsen baja dunia dengan produksi 19 juta ton.

5 hours ago
2

















































