
Sejumlah warga terdampak bencana gempa beristirahat di tenda pengungsian di Stadion Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026). Data Kementerian Sosial mencatat hingga pukul 15.40 WIB, terdapat sekitar dua ribu jiwa dilaporkan terdampak bencana gempa bumi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. Antara/Mega Tokan\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.514 kejadian bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 17 Agustus 2026. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi, dengan banjir, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta cuaca ekstrem menjadi tiga kejadian terbanyak.
Data BNPB menunjukkan bencana sepanjang periode tersebut telah menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat. Sebanyak 309 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, dan 542 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, jumlah warga yang menderita dan mengungsi mencapai 3.703.811 orang.
Kerusakan juga terjadi pada puluhan ribu rumah dan ratusan fasilitas publik. BNPB mencatat 24.883 rumah rusak, terdiri atas 17.013 rumah rusak ringan, 3.884 rusak sedang, dan 3.986 rusak berat.
Selain itu, sebanyak 835 fasilitas mengalami kerusakan. Jumlah tersebut meliputi 402 satuan pendidikan, 307 rumah ibadah, dan 126 fasilitas pelayanan kesehatan.
Banjir dan Karhutla Dominasi Bencana
Banjir menjadi bencana yang paling banyak terjadi hingga pertengahan Agustus 2026, dengan 540 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Karhutla sebanyak 440 kejadian, kemudian cuaca ekstrem dengan 318 kejadian.
Selain itu, BNPB mencatat 104 kejadian tanah longsor dan 85 kejadian kekeringan.
Data tersebut menunjukkan ancaman bencana hidrometeorologi di Indonesia berlangsung dalam dua karakter sekaligus. Curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem masih memicu banjir serta longsor, sementara kekeringan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi ini membuat masyarakat di berbagai daerah perlu mewaspadai perubahan cuaca dan potensi bencana yang dapat muncul secara cepat.
Lebih dari 3,7 Juta Warga Terdampak
Besarnya jumlah korban dan pengungsi menunjukkan dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan keselamatan jiwa, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Lebih dari 3,7 juta warga tercatat menderita dan mengungsi akibat berbagai bencana sepanjang periode Januari hingga 17 Agustus 2026. Kerusakan hampir 25.000 rumah juga menunjukkan masih tingginya kerentanan permukiman di sejumlah wilayah rawan bencana.
Fasilitas publik seperti sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas kesehatan juga terdampak. Kerusakan tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus pelayanan dasar di daerah terdampak bencana.
Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang masih dapat terjadi hingga akhir tahun.
Masyarakat perlu rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG, BNPB, maupun BPBD setempat. Informasi resmi penting untuk membantu warga mengambil langkah lebih cepat ketika terjadi perubahan kondisi cuaca.
Langkah mitigasi sederhana juga perlu dilakukan dari lingkungan tempat tinggal. Warga dapat membersihkan saluran air untuk mengurangi risiko banjir serta tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api untuk mencegah Karhutla.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor dan bantaran sungai, pemahaman mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul juga penting. Jalur evakuasi sebaiknya diketahui seluruh anggota keluarga agar dapat digunakan dengan cepat ketika terjadi keadaan darurat.
Masyarakat juga disarankan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang berisi dokumen penting, obat-obatan pribadi, pakaian, makanan siap saji, air minum, dan senter. Tas tersebut sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau.
Dengan meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi, kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































