Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). Kepolisian mengamankan dan melakukan pemeriksaan awal terhadap siswa yang diduga melakukan perakitan bom yang meledak di depan kelas di MAN 3 Padang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) membantah anggapan bahwa siswa MAN 3 Kota Padang membuat bom untuk aksi teror. Kemenag menegaskan peristiwa tersebut berakar pada kasus perundungan (bullying) yang dialami pelaku, bukan tindakan terorisme.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno mengatakan, pihaknya telah menerima laporan resmi dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat terkait insiden tersebut.
"Begini ya, mungkin teman-teman juga sudah ngikuti. Jadi kami sudah mendapatkan laporan resmi dari Pak Kakanwil bahwa itu bukan teror bom," ujar Suyitno usai menghadiri acara Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) 2026 Senyaman di MAN 19 Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Suyitno menjelaskan, pelaku merupakan siswa yang selama ini menjadi korban perundungan. Kondisi tersebut membuat pelaku merasa terpinggirkan hingga kemudian membuat alat menyerupai mercon.
"Jadi memang ada kasus di sana problem perundungan. Jadi ada siswa yang menjadi korban perundungan dan kemudian menurut laporan saya terima, itu terjadi karena pelaku merasa menjadi orang yang termarginalkan gara-gara dirundung, dan akhirnya membuat semacam alat apa ya, semacam mercon lah ya,”jelas dia.

2 weeks ago
48
















































