
Menteri Keuangan Sri Mulyani - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dipercaya memegang peran strategis di World Bank Group (WBG). Melalui International Development Association (IDA), perwakilan negara donor dan negara peminjam menunjuk Sri Mulyani sebagai Ketua Bersama proses pengisian kembali dana IDA22, yang menjadi sumber pembiayaan utama bagi negara-negara berpendapatan rendah dalam memerangi kemiskinan ekstrem.
Penunjukan tersebut diumumkan IDA berdasarkan hasil seleksi dari daftar pendek kandidat yang diajukan oleh negara donor maupun negara peminjam. Dalam menjalankan tugasnya, Sri Mulyani akan bekerja bersama Direktur Pelaksana Bank Dunia, Paschal Donohoe, memimpin proses pengisian kembali dana IDA22.
"Dalam peran ini, dia akan mengedepankan dukungan kebijakan dan keuangan yang lebih kuat untuk seluruh negara donor dan peminjam IDA22," demikian dikutip dari laman resmi IDA WBG, Rabu (5/8/2026).
Memimpin Proses Pengisian Dana IDA22
Siklus pengisian kembali dana IDA22 akan dimulai secara resmi dalam Tinjauan Tengah Periode di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026.
Selanjutnya, pembahasan komitmen pendanaan akan difinalisasi pada Desember 2027 untuk menentukan besaran pinjaman lunak yang akan tersedia bagi 78 negara hingga 2031.
Pengisian kembali dana IDA merupakan agenda yang diselenggarakan setiap tiga tahun untuk menghimpun komitmen pendanaan baru dari negara-negara donor.
Peran IDA di Bank Dunia
International Development Association merupakan salah satu unit di bawah Bank Dunia yang menjadi penyedia pendanaan terbesar bagi negara-negara berpendapatan rendah dalam upaya mengurangi kemiskinan ekstrem.
IDA menyediakan pinjaman berbunga rendah, bahkan hingga 0 persen, serta hibah kepada berbagai negara guna mendukung proyek pembangunan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan ketahanan, dan perbaikan kualitas hidup masyarakat.
Sejak berdiri pada 1960, IDA telah menyalurkan lebih dari US$632 miliar untuk investasi di 115 negara.
Pendanaan tersebut digunakan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja, penyediaan akses air bersih, pembangunan sekolah, jalan, layanan nutrisi, listrik, hingga berbagai program pembangunan lainnya.
Syarat Negara Penerima Pendanaan
Sejumlah negara yang sebelumnya menjadi penerima pembiayaan IDA, seperti Cina, India, Korea Selatan, dan Vietnam, kini tidak lagi berstatus sebagai peminjam. Bahkan, beberapa di antaranya telah beralih menjadi negara donor.
Untuk memperoleh akses pembiayaan IDA, suatu negara harus memenuhi kriteria sebagai negara berpendapatan rendah dengan pendapatan per kapita di bawah US$1.325 pada Tahun Anggaran 2026.
Selain itu, negara tersebut juga tidak memenuhi syarat memperoleh pinjaman dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), unit lain di bawah Bank Dunia.
Komitmen Pendanaan Mencapai US$33,8 Miliar
Sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada 30 Juni 2025, komitmen pendanaan IDA mencapai US$33,8 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$8,2 miliar disalurkan dalam bentuk hibah, sementara sisanya berupa pinjaman berbunga rendah hingga nol persen.
Wilayah Afrika menjadi penerima terbesar dengan nilai sekitar US$22,4 miliar atau setara 66 persen dari total komitmen pendanaan.
IDA juga mencatat rata-rata komitmen pendanaan mencapai sekitar US$33 miliar per tahun selama periode 2023–2025.
Selain mendukung pembangunan ekonomi, lembaga tersebut juga membantu sejumlah negara mengurangi beban utang pemerintah, terutama bagi negara-negara miskin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































