Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Dampak pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran mulai terasa di Israel, di tengah perpecahan politik yang tajam dan kritik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Netanyahu kini menghadapi situasi rumit yang memadukan tekanan dari Washington dan tantangan di lapangan, terutama di front Lebanon.
Washington sebelumnya mengumumkan penangguhan serangan terhadap Iran selama dua pekan untuk memberi ruang bagi negosiasi yang didukung oleh Netanyahu.
Mereka menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, sebuah posisi yang bertentangan dengan bocoran regional yang menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut mencakup berbagai front, termasuk front Lebanon.
Dari Ramallah, Direktur Kantor Aljazeera Walid Al-Omari mengatakan panggung politik Israel sedang mengalami mobilisasi melawan Netanyahu, di mana sekutunya tidak segera membelanya.
Sementara kritik dari oposisi dan mantan jenderal semakin meningkat, yang menganggap keputusannya sebagai "pemborosan" atas apa yang telah dicapai tentara selama perang.
Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa kekukuhan Netanyahu untuk mengecualikan Lebanon dari gencatan senjata mungkin merupakan upaya sengaja untuk menggagalkan proses negosiasi.
Hal ini mirip dengan pengalaman sebelumnya di Gaza dan Iran, menurut apa yang disampaikan Al-Omari dari seorang mantan pejabat di Dewan Keamanan Nasional Israel.
Pimpinan militer wilayah utara telah memberi tahu para kepala otoritas lokal bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, dan menyerukan agar tetap mematuhi prosedur perlindungan, mengingat serangan Israel ke wilayah Lebanon masih terus berlanjut.

5 hours ago
5
















































