Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan telah melakukan simulasi alias stress test dalam menghadapi gejolak perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel di Kawasan Timur Tengah, yang bisa mempengaruhi lonjakan harga minyak mentah dunia.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan, dari hasil stress test yang dilakukan Kementerian Keuangan, APBN masih mampu menghadapi gejolak tekanan harga minyak sampai ke level US$ 75 per barel.
"Dalam situasi seperti sekarang ini kita melihat forcible future lah. Itu yang bisa kita lihat dalam horizon. Misalnya katakanlah sekarang harga minyak US$ 70-72 dan sebagainya itu kan juga masih sama dengan APBN kita," kata Juda dalam Indonesi Economic Forum 2026 di Jakarta pada awal pekan ini, dikutip Rabu (4/2/2026).
"Katakanlah naik sampai US$ 75 pun di dalam skenario menurut kami masih di dalam range APBN. Baik defisit maupun dari sisi pertumbuhan ekonomi," tegas Juda Agung.
Namun, bila di atas itu, ia mengakui, APBN tentu akan mengalami tekanan yang cukup besar. Apalagi, Juda menganggap tidak ada satupun fiskal negara di mana pun yang didesain untuk merespons tekanan harga minyak hingga ke level US$ 100-150 per barel.
"Katakanlah sampai misalnya harga minyak di atas US$ 100-150, well tentu saja ini berdampak. Engggak ada desain fiskal yang meng-cover sebegitu extreme gitu kan. Tentu saja itu dampaknya cukup signifikan pada APBN," tuturnya.
Sebagaimana diketahui, APBN pemerintah memang menanggung cukup besar belanja negara untuk kepentingan subsidi BBM.
Dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026, anggaran belanja subsidi bahan bakar dan energi yang telah disiapkan dalam Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) sebesar Rp 210,06 triliun. Nilai itu lebih tinggi dibanding yang disiapkan pada 2025 sebesar Rp 203,41 triliun.
Juda Agung mengatakan, setiap kenaikan US$ 1 pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun.
"Sebenarnya di nota keuangan kita kan sudah ada sensitivity analysis ya. Satu dolar kenaikan ICP itu menyebabkan kenaikan defisit Rp 6,8 triliun," ucap Juda Agung.
Dikutip dari Refinitiv, Rabu (4/3/2026), harga minyak mentah WTI mencapai US$ 75,05 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent sudah mencapai US$ 82,15 per barel.
(arj/haa)
Addsource on Google

















































