Ancaman IRGC Sasar Pusat Data AI Raksasa di Timur Tengah

6 hours ago 1

Ancaman IRGC Sasar Pusat Data AI Raksasa di Timur Tengah Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menyerang infrastruktur teknologi strategis, termasuk pusat data kecerdasan artifisial berskala besar di kawasan Teluk.

Ancaman tersebut secara spesifik menyasar proyek pusat data AI Stargate di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Fasilitas bernilai sekitar US$30 miliar itu menjadi simbol kolaborasi teknologi global yang melibatkan Nvidia, OpenAI, Cisco, Oracle, SoftBank, serta perusahaan AI UEA, G42.

Juru bicara IRGC, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan fasilitas tersebut menjadi target sah sebagai balasan atas kebijakan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan melalui video yang dirilis pada 3 April 2026, lengkap dengan citra satelit lokasi dan daftar perusahaan teknologi Barat.

Ancaman ini muncul di tengah laporan kerusakan pada fasilitas Amazon Web Services di Bahrain dan UEA akibat serangan fisik sebelumnya. Situasi semakin memanas setelah Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Secara teknis, pusat data Stargate diproyeksikan menjadi klaster komputasi AI terbesar di luar Amerika Serikat. Tahap awalnya ditargetkan menghasilkan daya 200 megawatt pada 2026 dan berkembang hingga 1 gigawatt untuk mendukung ambisi UEA menjadi pusat AI global pada 2031.

IRGC juga disebut merilis daftar 18 perusahaan teknologi yang dianggap sebagai target potensial, termasuk Microsoft, Google, Meta, Apple, Intel, Tesla, hingga Boeing.

Analis dari Carnegie Endowment for International Peace, Sam Winter-Levy, menilai langkah Iran merupakan strategi untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.

Menurutnya, pusat data menjadi “target lunak” karena ketergantungan tinggi pada pasokan energi dan sistem pendingin. Gangguan pada fasilitas ini berpotensi memicu efek berantai pada sektor perbankan, logistik, hingga layanan digital.

Pakar keamanan teknologi independen, Lukasz Olejnik, menilai ancaman terhadap infrastruktur cloud kini bukan lagi sekadar risiko teoritis. Ia mengingatkan bahwa perusahaan dan penyedia asuransi harus mulai memperhitungkan potensi serangan fisik terhadap pusat data.

Di tengah situasi ini, proyek Stargate tidak hanya dipandang sebagai aset ekonomi, tetapi juga simbol dominasi teknologi Barat di luar wilayah domestik. Pemerintah AS sebelumnya menilai proyek ini penting untuk menjaga kepemimpinan komputasi global.

Negara-negara Teluk diperkirakan akan memperkuat sistem pertahanan di sekitar kawasan teknologi. Namun, meningkatnya risiko keamanan bisa memengaruhi keputusan investasi perusahaan teknologi global di wilayah tersebut.

Sejauh ini, otoritas UEA bersama mitra industri masih memantau perkembangan situasi. Di tengah ancaman yang meningkat, ambisi menjadikan kawasan Teluk sebagai pusat AI global tetap menjadi prioritas jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|