REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin menegaskan peluncuran “Aiman & Aisha” bukan sekadar menghadirkan fitur baru, melainkan menjawab kebutuhan generasi digital dalam mencari makna di tengah ledakan kecerdasan buatan (AI).
“Kami hari ini tidak cuma meluncurkan fitur sebenarnya, tidak cuma memperkenalkan inovasi media. Kami sedang membicarakan sesuatu yang lebih besar, tentang zaman, tentang generasi, dan cara manusia sebenarnya mencari makna,” ujarnya dalam monolognya pada Grand Launching “Aiman & Aisha” bertema When Faith Meets Technology di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Pria yang akrab dipanggil Dio ini menjelaskan, AI kini bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari keseharian.
Mengutip riset, ia menyebut 64,7 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan AI. Sementara survei global PwC 2025 menunjukkan 69 persen pekerja menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, dan 96 persen pengguna harian merasa lebih produktif.
"Ini bukan eksperimen kecil menurut saya, ini perubahan perilaku sosial. Kita sedang hidup di era dimana kecerdasan buatan membentuk cara kita bekerja dan cara kita berpikir, bahkan cara kita mencintai," ucapnya.
Ia mencontohkan kisah viral di Inggris tentang seorang perempuan bernama Charlotte yang sempat merasa lebih bahagia berinteraksi dengan chatbot AI dibanding suaminya sendiri.
Meski pada akhirnya ia menyadari AI bukan manusia, fenomena tersebut menunjukkan betapa kuatnya keterikatan emosional yang bisa terbentuk dengan teknologi.
Menurut Dio, generasi Z tumbuh bersama teknologi dan memandang AI bukan sekadar alat, melainkan teman dialog. Dengan tingkat penggunaan AI mencapai 43,7 persen di kalangan Gen Z, cara mereka bertanya pun semakin personal dan terbuka.

4 hours ago
4

















































