1.048 Anak Putus Sekolah di Kulonprogo, Mayoritas SMP

1 hour ago 2

1.048 Anak Putus Sekolah di Kulonprogo, Mayoritas SMP

Seragam sekolah SD dan SMP - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, KULONPROGO—Data terbaru Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kabupaten Kulonprogo menunjukkan angka anak putus sekolah masih cukup tinggi, mencapai lebih dari seribu anak. Kondisi ini menjadi perhatian karena mayoritas kasus terjadi pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan berbagai latar belakang penyebab yang beragam.

Kepala Seksi Layanan Balai Dikmen Kulonprogo, Maryani, mengungkapkan bahwa total sementara anak putus sekolah tercatat sebanyak 1.048 orang. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara karena proses verifikasi baru mencapai 66 persen, sehingga kemungkinan jumlahnya masih dapat bertambah. “Rata-rata putus sekolah di tingkat SMP,” katanya, Minggu (10/5/2026).

Maryani menjelaskan bahwa faktor penyebab putus sekolah di Kulonprogo sangat beragam. Di antaranya adalah keterbatasan biaya, keinginan anak yang tidak ingin melanjutkan sekolah, pengaruh lingkungan, hingga jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal. Selain itu, terdapat pula kasus anak yang memilih bekerja, tidak memiliki akta kelahiran, hingga menikah atau harus mengurus rumah tangga.

“Putus sekolah karena menikah atau mengurus rumah tangga jumlahnya mencapai 35 orang, alasan tidak mau sekolah paling banyak mencapai 122 orang,” lanjut Maryani.

Selain itu, terdapat 47 anak yang putus sekolah karena bekerja, 11 anak karena alasan tidak memiliki biaya, serta 12 anak yang terdampak pengaruh lingkungan. Data ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan sosial masih menjadi tantangan utama dalam keberlanjutan pendidikan di daerah tersebut.

Dari sisi lain, tercatat pula enam anak yang memilih pindah ke luar negeri sehingga tidak melanjutkan pendidikan di daerah asalnya. Sementara itu, 44 anak lainnya tidak bersekolah karena faktor kesehatan atau menyandang disabilitas.

“Angka putus sekolah itu dari tidak bersekolah, putus waktu SD, SMP, atau saat SMA. Asal secara umur maksimal 22 tahun,” ucap Maryani. Ia menambahkan bahwa kondisi para anak putus sekolah saat ini beragam, mulai dari sudah bekerja, berkeluarga, merantau ke luar daerah maupun luar negeri, hingga yang masih berada di rumah tanpa aktivitas pendidikan maupun pekerjaan.

Untuk kelompok yang masih berada di rumah atau sudah bekerja, pihak Balai Dikmen Kulonprogo terus melakukan pendekatan melalui sosialisasi program pendidikan lanjutan, termasuk beasiswa sekolah, program Sekolah Rakyat, serta pendidikan kesetaraan melalui kejar paket. Upaya ini diharapkan dapat membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya terputus dari sekolah formal.

Di sisi lain, penyebab putus sekolah juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti 12 anak yang meninggal dunia, serta sebagian lainnya yang menganggap pendidikan tidak penting, terlibat tindakan kriminal, hingga mengalami kekerasan atau perundungan yang menyebabkan trauma untuk kembali ke lingkungan sekolah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan anak tidak sekolah di Kulonprogo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|