Waspada Virus Hanta, Penyakit dari Tikus yang Bisa Picu Gagal Ginjal

4 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Virus Hanta atau hantavirus menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan penyakit serius meski kasusnya relatif jarang. Virus ini tergolong zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

Infeksi hantavirus dapat menyebabkan sindrom Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu kondisi yang memicu demam berdarah disertai gangguan fungsi ginjal. Dalam kasus tertentu, infeksi juga dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru serius.

Penularan dari Tikus ke Manusia

Reservoir utama hantavirus di Indonesia berasal dari berbagai jenis tikus, seperti tikus got dan mencit rumah. Virus ini dapat bertahan dalam tubuh hewan tanpa menimbulkan gejala, namun berbahaya saat menular ke manusia.

Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus yang bercampur debu dari urine atau kotoran tikus. Selain itu, virus juga bisa masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi.

Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti penularan antar manusia di Indonesia.

Gejala Awal Mirip Flu

Gejala infeksi hantavirus sering kali menyerupai penyakit flu, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan. Pada tahap lanjut, penderita bisa mengalami gangguan ginjal, penurunan produksi urin, hingga tekanan darah rendah.

Selain HFRS, terdapat juga sindrom lain yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan sesak napas hingga gagal napas dalam waktu singkat.

Tingkat kematian pada HPS tercatat cukup tinggi, mencapai sekitar 38 persen, sementara HFRS memiliki fatalitas hingga 6 persen tergantung tingkat keparahan.

Kasus di Indonesia Masih Terbatas

Data Kementerian Kesehatan hingga pertengahan 2025 mencatat delapan kasus HFRS yang tersebar di beberapa daerah, termasuk Jogja, Jawa Barat, NTT, dan Sulawesi Utara.

Meski demikian, pemerintah menegaskan belum ada status Kejadian Luar Biasa (KLB) karena jumlah kasus masih di bawah ambang batas epidemi.

Belum Ada Obat Khusus

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan suportif, seperti pemberian oksigen, cairan infus, hingga dialisis jika terjadi gagal ginjal.

Dalam kasus berat, pasien dengan gangguan pernapasan dapat membutuhkan alat bantu seperti ventilator atau teknologi lanjutan.

Pencegahan Jadi Kunci

Karena belum ada pengobatan khusus, pencegahan menjadi langkah utama. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, serta menggunakan alat pelindung saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.

Masyarakat juga diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah terpapar lingkungan yang berisiko.

Dengan kewaspadaan dan penanganan yang tepat, risiko dampak serius akibat hantavirus dapat diminimalkan, terutama di wilayah dengan potensi paparan tikus yang tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|