Harianjogja.com, BANTUL—Wisata paddle board di Muara Sungai Opak, Baros, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek, mulai menjadi destinasi alternatif yang menarik perhatian wisatawan. Selain menawarkan pengalaman menyusuri aliran sungai yang tenang, aktivitas ini juga perlahan menghadirkan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Setiap pagi sebelum matahari meninggi, Yusuf Pratama bersama rekannya sudah bersiap di tepian Muara Sungai Opak. Waktu operasional dipilih sejak dini hari hingga pagi karena kondisi air masih tenang, sehingga lebih aman bagi wisatawan, terutama pemula yang baru pertama kali mencoba paddle board.
"Untuk kegiatan paddle di Baros ini, kami mengambil waktu di pagi hari, mulai dari jam 5.30 sampai jam 8 terakhir turun. Terus jam 9 kalau bisa sudah selesai, soalnya anginnya nanti sudah kencang, jadi arus di sungai nanti ikut kencang juga. Supaya aman dari hal-hal yang tidak diinginkan," kata Yusuf saat ditemui Harian Jogja, Rabu (29/7).
Berawal dari Inspirasi Media Sosial
Wisata paddle board di kawasan Baros baru mulai dikembangkan pada 27 September 2025. Yusuf melihat potensi Muara Sungai Opak yang selama ini belum dimanfaatkan sebagai destinasi wisata air meski memiliki karakter sungai yang relatif tenang.
Inspirasi tersebut muncul setelah ia melihat berbagai unggahan paddle board di media sosial. Dari situ, ia mencoba menghadirkan aktivitas serupa di kampung halamannya dengan mengandalkan potensi alam yang sudah tersedia.
"Awal mula paddle di sini itu, kami terinspirasi dari lihat di sosial media. Ada akun yang memposting itu foto-foto. Terus kami melihat kayaknya ada potensi di wilayah kami. Terus akhirnya kami beli paddle. Bikin konten-konten sendiri, akhirnya konten itu malah viral. Jadi kami langsung buka wisata sekalian," ujarnya.
Seluruh modal usaha berasal dari tabungan pribadi. Tanpa dukungan investor maupun lembaga lain, Yusuf membeli papan paddle beserta perlengkapan keselamatan hingga kini memiliki enam unit yang dikelola bersama seorang rekannya.
Wisatawan Didominasi dari Luar Bantul
Respons wisatawan datang lebih cepat dari perkiraan. Menurut Yusuf, pengunjung justru lebih banyak berasal dari luar Kabupaten Bantul, bahkan dari luar Jogja.
"Peminat sini malah belum terlalu banyak. Kebanyakan peminatnya dari kalangan luar kota sama Jogja kota," katanya.
Karena jumlah peralatan masih terbatas, sistem reservasi diterapkan agar seluruh sesi dapat berjalan tertib.
"Di kami baru ada tersedia enam unit paddle. Terus cara pesannya nanti wajib reservasi. Soalnya ini udah hampir penuh. Jadi wajib reservasi, kalau datang on the spot tidak bisa," ujarnya.
Dalam sehari tersedia sekitar tiga sesi dengan kapasitas enam hingga sepuluh wisatawan. Setiap perjalanan berlangsung sekitar 40 menit hingga satu jam, termasuk pengarahan keselamatan, aktivitas mendayung, serta dokumentasi menggunakan drone di sejumlah titik yang telah ditentukan.
Tarif Wisata Paddle Board
Wisatawan dapat memilih beberapa paket yang disediakan, yakni:
Paddle board tanpa dokumentasi: Rp100.000.
Paddle board dengan dokumentasi drone:
Rp350.000 untuk satu orang.
Rp500.000 untuk dua orang.
Rp750.000 untuk tiga orang.
Rp1 juta untuk empat orang.
Pengalaman Pertama yang Berkesan
Salah satu wisatawan, Hidayah Indah asal Minggir, Sleman, mengaku tertarik mencoba paddle board setelah melihat unggahan di Instagram.
"Karena tentunya ini adalah pengalaman pertama saya. Aku pengen nyobain paddle di sini," ujarnya.
Menurutnya, kekhawatiran bahwa paddle board sulit dimainkan langsung hilang setelah mendapatkan arahan dari pemandu.
"Tentunya nggak ada kesulitan sih, cukup aman. Cukup enak, enjoy," katanya.
Hidayah menilai pengarahan sebelum turun ke sungai menjadi bekal penting bagi wisatawan.
"Iya, tentunya diajari dulu pengamanannya. Cara mendayungnya kayak gimana. Terus tentunya pengamannya aman. Menggunakan pelampung," ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Galih, wisatawan asal Bantul yang baru pertama kali mencoba paddle board di kawasan Mangrove Baros.
"Iya baru pertama kali. Seru banget, pokoknya harus nyobain. Ternyata ada paddle board di Mangrove Baros ini," katanya.
Ia menilai suasana tenang di Muara Sungai Opak menjadi daya tarik utama karena wisatawan bisa menikmati aliran sungai tanpa ombak besar.
"Kita bisa merasakan aliran sungai yang sangat tenang, bisa duduk-duduk, bisa tiduran," ujarnya.
Galih mengaku sempat ingin berdiri di atas papan, tetapi masih ragu menjaga keseimbangan.
"Kalau seimbang sih tadi bisa berdiri, tapi saya takut," katanya sambil tertawa.
Meski demikian, ia menilai paddle board tetap mudah dipelajari oleh pemula.
"Kalau mendayungnya nggak susah sih karena saya benar-benar baru pertama kali. Aman aja sih, enak kok," ujarnya.
Dorong Ekonomi Warga Pesisir
Yusuf mengatakan berkembangnya wisata paddle board tidak hanya berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mulai membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Awalnya seluruh aktivitas dikelola hanya oleh dirinya bersama seorang teman. Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, warga sekitar mulai dilibatkan sebagai pemandu, membantu dokumentasi, hingga mendukung operasional wisata di kawasan Muara Sungai Opak.
"Jadi untuk adanya wisata ini, kami malah bisa membantu perekonomian di dusun kami terutama. Itu bisa menambah nilai ekonomi teman-teman kami yang tidak ada kegiatan di rumah. Nanti bisa kami tarik ke sini biar ada penghasilannya juga," katanya.
Yusuf berharap Muara Sungai Opak semakin dikenal bukan hanya sebagai titik pertemuan sungai dan laut, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir melalui pengelolaan potensi lokal yang dimulai dari inisiatif sederhana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































