Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara China dan Taiwan yang sudah berlangsung sejak era Mao Zedong masih terus berlanjut hingga kini, bahkan ranahnya kian meluas ke sektor digital. China dilaporkan menyasar Taiwan untuk mendapatkan teknologi manufaktur chip canggih dan talenta di dalamnya.
Taktik ini dilakukan seiring posisi China yang kian tertekan untuk mengakses teknologi internasional demi mengembangkan industri dalam negeri. Lebih spesifik, China berupaya mencapai kemandirian dalam sektor semikonduktor canggih, di tengah persaingan teknologi yang makin ketat dengan AS.
Taiwan yang selama ini diklaim China sebagai 'wilayah teritorinya', secara berkala melaporkan jaringan-jaringan perusahaan China yang secara ilegal mencoba mencuri talenta dan teknologi semikonduktor canggih negaranya.
Taiwan juga memiliki hukum yang ketat untuk mencegah teknologi tercanggih dari negaranya mengalir ke China.
Dalam laporan ke pemangku kebijakan, Biro Keamanan Nasional Taiwan mengatakan China berupaya 'merayu' industri-industri teknologi tinggi Taiwan, termasuk AI dan semikonduktor, untuk menetapkan operasional di China.
"China juga terus-terusan menggunakan saluran tidak langsung untuk membujuk talenta Taiwan, mencuri teknologi, dan mengakses barang-barang yang dikontrol, dengan tujuan mendapatkan produk-produk dan teknologi inti kami. Misalnya chip pemrosesan canggih Taiwan," menurut laporan tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (8/4/2026).
Kantor Urusan Taiwan di China tidak segera menanggapi permintaan komentar. China mengatakan Taiwan adalah salah satu provinsinya dan pada akhirnya akan berada di bawah kendali Beijing.
Sebagai informasi, Taiwan merupakan 'rumah' bagi TSMC, produsen kontrak chip terbesar di dunia dan penyuplai mayoritas untuk raksasa teknologi seperti Nvidia dan Apple.
China juga diperkirakan akan menggunakan berbagai metode hibrida, termasuk deepfake dan jajak pendapat palsu, untuk mengganggu pemilihan lokal akhir tahun di Taiwan, menurut laporan tersebut, yang salinannya telah ditinjau oleh Reuters.
Jaringan Layanan Pemerintah Taiwan menjadi sasaran lebih dari 170 juta upaya intrusi pada kuartal pertama tahun ini, tambah laporan tersebut, yang disampaikan menjelang sesi tanya jawab Direktur Jenderal biro tersebut, Tsai Ming-yen, pada hari Rabu.
"Tidak dapat dikesampingkan bahwa Partai Komunis China sedang mempersiapkan landasan untuk ikut campur dalam pemilihan umum akhir tahun Taiwan, dengan maksud untuk memperluas pengumpulan intelijen, pengawasan, dan pencurian data," kata laporan itu.
Taiwan juga menghadapi tekanan militer China yang berkelanjutan. Pada kuartal pertama, lebih dari 420 pesawat militer China terdeteksi beroperasi di sekitar Taiwan, dan kapal angkatan laut China berkoordinasi dengan mereka dalam melakukan 10 "patroli kesiapan tempur bersama," tambah laporan itu.
Partai Komunis China menghadapi peningkatan risiko karena tekanan domestik dan eksternal seperti kelemahan ekonomi dan persaingan geopolitik, laporan menambahkan.
"Meskipun demikian, mereka terus menggunakan berbagai ancaman hibrida terhadap Taiwan, termasuk intimidasi militer," kata laporan itu.
Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing, dengan mengatakan hanya rakyat di pulau tersebut yang dapat menentukan nasib masa depan mereka.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

















































