Malapetaka Hantam Warga AS, FBI Ungkap Fakta Mengerikan

12 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - FBI membeberkan fakta mengerikan terkait kejahatan siber yang makin ganas dan memakan banyak korban. Warga Amerika Serikat (AS) dilaporkan kehilangan uang hampir US$21 miliar (Rp356 triliun) gara-gara terjerat penipuan online sepanjang 2025.

Mayoritas penipuan online yang dideteksi berasal dari penipuan investasi, penipuan email bisnis, penipuan dukungan teknis, dan pelanggaran data.

Angka kerugian yang dialami warga AS terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun-ke-tahun. Uang yang raib sebesar US$21 miliar pada 2025 meningkat 26% dibandingkan 2024 yang berjumlah US$16,6 miliar.

Pusat Pelaporan Kejahatan Internet AS (IC3) juga menerima keluhan yang lebih tinggi pada 2025, menembus 1 juta, dibandingkan 859.000 keluhan pada tahun sebelumnya.

Laporan yang paling sering diterima berasal dari penyerangan phishing (191.000 kasus), pemerasan (89.000 kasus), dan penipuan investasi (72.000 kasus), yang terus mengalami lonjakan kerugian, dikutip dari Bleeping Computer, Rabu (8/4/2026).

Ada juga modus-modus lain yang dilaporkan, meskipun jumlahnya lebih kecil. Misalnya jenis serangan serius seperti peretasan email bisnis (24.700 kasus), pelanggaran data (3.900 kasus), serangan ransomware (3.600 kasus), dan penukaran SIM (971 kasus).

Penipuan dalam bentuk investasi berkontribusi terhadap kerugian keuangan mencapai US$8,6 miliar. Adapun penipuan yang menargetkan mata uang kripto menyebabkan kerugian terbesar, yakni mencapai US$11 miliar dari 181.565 kasus yang dilaporkan.

Menurut IC3, warga AS dengan usia di atas 60 tahun menjadi target sasaran tertinggi, dengan laporan kerugian mencapai US7,7 miliar atau mengalami kenaikan 37% dibandingkan tahun lalu.

Untuk pertama kalinya, laporan FBI juga memasukkan penipuan terkait AI. Terdapat 22.300 laporan penipuan AI dengan jumlah kerugian mencapai US$893 juta. Skema penipuan ini melibatkan pemalsuan suara, pemalsuan profil, pemalsuan dokumen, hingga video deepfake.

Dalam dua kasus, penyerang menargetkan infrastruktur kritis berupa bendungan dan fasilitas nuklir. FBI melabeli insiden ini sebagai kebocoran data.

Sektor infrastruktur kritis yang paling banyak diincar sepanjang 2025 mencakup sistem kesehatan, manufaktur, layanan keuangan, teknologi informasi, dan fasilitas pemerintahan.

FBI mengatakan pihaknya telah meningkatkan upaya untuk menangkal serangan, menotifikasi korban, dan membekukan pendanaan curian di beberapa kasus. Bahkan, ada pencurian dan kerugian finansial yang akhirnya bisa dipulihkan.

Lembaga tersebut memulai 3.900 intervensi Financial Fraud Kill Chain (FFKC) pada 2025, dan berhasil memblokir sebagian transaksi penipuan. Dari US$1,16 miliar yang menjadi target penyerang, FBI membekukan US$679 juta.

Upaya tambahan yang dilakukan berbentuk mitigasi dalam program 'Operation Level Up'. Program yang dimulai pada awal tahun lalu tersebut secara proaktif mencegah kerugian keuangan dengan mengidentifikasi dan memperingatkan korban terkait potensi penipuan investasi mata uang kripto.

Dari 3.780 korban yang dinotifikasi tahun lalu, 78% tak sadar mereka telah menjadi korban penipuan.

FBI menyarankan masyarakat untuk tidak terburu-buru ketika menerima permintaan mendesak dan menghadapi taktik tekanan, serta menggunakan semua cara yang tersedia untuk memverifikasi keaslian komunikasi sebelum mengirim uang atau data.

Bagi masyarakat yang mencurigai adanya peretasan oleh peretas atau penipu diimbau untuk melaporkan insiden tersebut dengan detail lengkap ke IC3.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|