UGM Temukan Retakan Tanah hingga 20 Meter di Lokasi Fenomena Api

6 hours ago 6

UGM Temukan Retakan Tanah hingga 20 Meter di Lokasi Fenomena Api

Tim Peneliti UGM menggunakan alat georadar untuk untuk mengecek lapisan tanah, objek terpendam maupun retakan di bawah rumah warga pada Senin (8/6/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, SLEMAN—Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan indikasi struktur retakan bawah tanah di lokasi kemunculan fenomena api misterius di Seyegan, Sleman. Hasil pemindaian awal menggunakan georadar menunjukkan adanya pola retakan yang terhubung dengan sejumlah titik kemunculan api hingga kedalaman sekitar 15–20 meter.

Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM, Saptono Budi Samodra, menjelaskan temuan tersebut masih bersifat sementara dan membutuhkan pengolahan data lebih lanjut.

“Kalau sementara ini masih kasar ya, hanya melihat sekilas belum diolah lebih lanjut. Memang terlihat ada beberapa koneksi atau keterkaitan antara titik api itu dengan retakan di bawah sampai kedalaman mungkin sekitar 15-20 meter,” ujar Saptono, Senin (8/6/2026).

Pemindaian menggunakan georadar dilakukan untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah di rumah warga yang selama beberapa pekan terakhir mengalami fenomena kemunculan api secara berulang.

Dari hasil pengamatan awal, perangkat georadar mampu mengidentifikasi lapisan tanah urukan maupun tanah asli di bawah bangunan. Pada sejumlah titik, alat tersebut mendeteksi adanya pola retakan yang diduga memiliki hubungan dengan lokasi munculnya api.

“Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan pola atau struktur retakan di beberapa tempat,” kata Saptono.

Menurut dia, retakan ditemukan di sejumlah area rumah, termasuk di sekitar lokasi pertama kali munculnya api. Saat tim melakukan pemindaian dari beberapa arah, indikasi retakan kembali muncul pada hasil pembacaan alat.

Saptono menuturkan sebagian retakan terdeteksi hingga kedalaman sekitar 1,5 meter sebelum berlanjut ke lapisan yang lebih dalam. Namun, analisis menyeluruh masih diperlukan untuk memastikan karakteristik dan keterhubungan antarretakan tersebut.

Secara teoritis, lanjut dia, keberadaan retakan memungkinkan menjadi jalur migrasi gas dari bawah permukaan menuju permukaan tanah.

“Gas itu tidak membutuhkan celah yang besar. Yang penting ada retakan sehingga memungkinkan gas keluar,” ujarnya.

Meski demikian, tim peneliti belum dapat menyimpulkan bahwa retakan tersebut merupakan penyebab langsung kemunculan api. Identifikasi sumber gas masih menjadi fokus penelitian berikutnya.

Saptono menjelaskan alat georadar yang digunakan memiliki kemampuan pemindaian hingga kedalaman sekitar 20 meter. Karena keterbatasan tersebut, belum dapat dipastikan apakah retakan masih berlanjut pada lapisan yang lebih dalam.

“Bisa jadi masih berlanjut, tetapi kemampuan alat kami hanya sampai sekitar 20 meter,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan retakan bawah tanah merupakan fenomena yang lazim terjadi pada wilayah dengan aktivitas tektonik. Namun tidak semua retakan mengandung gas atau berpotensi menimbulkan bahaya.

“Kalau gasnya tidak ada, meskipun ada retakan juga tidak menimbulkan pengaruh apa-apa. Jadi tidak semua retakan itu berbahaya,” ujarnya.

Dari hasil pemindaian awal, beberapa retakan yang terdeteksi memiliki dimensi sangat kecil atau menyerupai retakan rambut. Retakan tersebut dikenali dari pola lapisan tanah yang tampak terputus pada citra georadar.

“Kalau kondisi normal, lapisan tanah itu seperti kue lapis yang tersusun dan menyambung. Di beberapa titik terlihat terputus dan berlanjut sampai ke bawah,” jelasnya.

Penelitian Dilanjutkan dengan Geolistrik

Untuk memperkuat temuan awal tersebut, Tim UGM berencana melakukan survei lanjutan menggunakan metode geolistrik. Metode ini dipilih untuk memperoleh gambaran kondisi bawah permukaan yang lebih dalam dibandingkan kemampuan georadar.

Saptono menjelaskan geolistrik bekerja dengan mengukur nilai resistivitas atau hambatan listrik batuan sehingga dapat membantu mengidentifikasi jenis lapisan tanah maupun keberadaan struktur tertentu di bawah permukaan.

“Dari variasi resistivitas nanti bisa dilihat batuannya jenis apa. Jika ada ketidakselarasan lapisan, retakan juga dapat teridentifikasi meskipun tidak sedetail georadar,” katanya.

Melalui kombinasi data georadar dan geolistrik, tim berharap dapat mengungkap sumber gas yang diduga berkaitan dengan fenomena api di Seyegan.

Menurut Saptono, proses pengolahan data georadar diperkirakan selesai dalam waktu sekitar sepekan. Setelah itu, hasilnya akan dikombinasikan dengan data penelitian lainnya untuk memastikan penyebab fenomena tersebut.

“Apakah itu gas alam atau gas yang berasal dari aktivitas lain, semuanya akan kami kaji secara ilmiah agar penyebab sebenarnya dapat diketahui dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|