REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu faktor utama dalam mewujudkan pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri (DUDI). Dalam era transformasi pendidikan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, SMK dituntut mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Salah satu strategi untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui penguatan kemitraan antara SMK dengan DUDI, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan lainnya. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar kegiatan
Peningkatan Kapabilitas SDM Kemitraan SMK dan Penandatanganan Perjanjian
Kerja Sama (PKS) antara SMK dengan DUDI di Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengungkapkan bahwa dunia industri membawa teknologi baru serta membawa wawasan pasar yang semakin dibutuhkan oleh lulusan-lulusan SMK. "Tanpa keterlibatan industri, apa yang dikerjakan di sekolah, sekalipun dengan upaya sekeras mungkin, mungkin bisa juga tidak sesuai atau bahkan ketinggalan dengan apa yang ada di dalam dunia industri dan dunia usaha," tutur Tatang dalam sambutannya, Rabu.
Tatang mengungkapkan bahwa di tengah kondisi ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, angka pengangguran lulusan SMK terus mengalami penurunan. Saat ia pertama kali bergabung di Direktorat Jenderal Vokasi dua tahun lalu, angkanya sudah menurun empat persen dari sekitar 12 persen menjadi sekitar 9 persen.
Tantangan yang harus diembannya saat ini adalah menurunkan kembali tingkat pengangguran tersebut hingga di bawah 5 persen. "Saya kebetulan hampir 5 tahun di Eropa, dan (di sana) selalu (angka) pengangguran ya sekitaran 3 persen. Tapi itu sudah bagus. Karena mengurangi sama sekali itu tidak mungkin," ujar Tatang.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya sekolah berkolaborasi dengan industri. Namun saat ini terdapat tantangan karena bagaimanapun iklim di Indonesia berbeda dengan di negara-negara Eropa seperti Swiss dan Jerman yang mana terdapat industri dan sekolah vokasi sama banyaknya.
"Di sini vokasinya (meningkat) eksponensial, industrinya relatif stagnan. Dalam posisi yang seperti ini, maka posisi tawarnya siswa SMK untuk mendapatkan PKL di industri itu tidak mudah. Jadi tentu yang akan dipilih adalah SMK-SMK yang punya track record bagus. Nah, inilah yang terjadi kesenjangan yang cukup besar antara kebutuhan PKL dengan ketersediaan industri," katanya.
Dengan adanya kerja sama yang ada saat ini, ia berharap siswa PKL yang ada semakin terserap, termasuk yang berasal dari SMK-SMK di daerah perdesaan,.
Tantangan lain, menurut Tatang, adalah digitalisasi yang semakin mempercepat usia kurikulum di sekolah. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian yang baik untuk mengatasi hal tersebut. Ia melihat para siswa SMK perlu diperkuat soft skill-nya.
Jadi di samping hard skill, menurut dia, soft skill menjadi kunci. Untuk itu Kemendikdasmen ingin menekankan pada peningkatan kualitas pembelajaran yang tidak hanya semakin relevan, tapi juga cukup fleksibel. Supaya bisa dipastikan para siswa SMK tersebut fleksibel dan tanggap terhadap perubahan.
"Nah, di sinilah maka hubungan SMK dengan industri tidak boleh hanya berhenti di PKS, tapi juga kesehariannya. Karena industri demikian cepat bergerak. Para guru pun harus betul-betul bisa mengimbangi percepatan gerak-gerak tersebut," katanya.
Division Head PT Astra Daihatsu Motor, Ferry Nugroho, pun menyambut baik adanya perjanjian kerja sama ini. Menurutnya, kerja sama yang sudah ada selama ini sudah cukup baik. Ditambah lagi instansinya juga kerap melakukan pembinaan kepada para siswa, termasuk gurunya, agar bisa menghadirkan suasana industri ke sekolah.
"Sehingga siswa sendiri tidak merasa canggung dan merasa familiar dengan bagaimana suasana industri. Jadi, dalam program kami dengan SMK, bagaimana budaya-budaya industri, kebiasaan-kebiasaan, dan juga gimik-gimik yang ada di industri itu kita bawa, kita hadirkan ke sekolah. Tentu kita perkenalkan ini kepada siswa lebih awal," kata Ferry.
Ia pun merasakan sendiri bagaimana program kemitraan ini sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ia membandingkan dengan ketika tawaran magang dibuka secara umum, maka peluang siswa SMK lolos seleksi bisa 1 banding 100.
"Namun setelah kami merintis program kami, di mana kami membina secara intensif sekolah-sekolah SMK, dengan kami memperkenalkan kurikulum-kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, terutama bagaimana kami memperkenalkan budaya kerja seperti halnya seperti di dalam perusahaan kami, kini peluangnya bisa 1 banding 1. Artinya memang peluang untuk bisa lolos bisa hampir 100 persen," ujar Ferry.
Pengalaman yang serupa terjadi di sektor perhotelan. Cluster General Manager Grand Mercure & Ibis Yogyakarta Adisucipto Pupung Sutisna mengatakan, program training telah menjadi pintu masuk bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.
“Kami sangat terbuka untuk menerima dan memberikan kesempatan kepada adik-adik SMK, khususnya untuk mengikuti training di hotel. Ini merupakan peluang yang sangat bagus bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman sekaligus mengenal dunia kerja secara langsung,” ujarnya.
Pupung bahkan menyebut sejumlah peserta training yang pernah dibinanya kemudian diangkat menjadi karyawan. Program training juga dapat berlangsung selama enam bulan hingga satu tahun. Masa tersebut dimanfaatkan untuk membekali sekaligus melihat kesiapan siswa sebelum masuk ke dunia kerja.
Pupung menilai, kesempatan bagi siswa SMK untuk memperoleh training dan pengalaman kerja saat ini semakin terbuka. Karena itu, kerja sama antara sekolah dan industri perlu terus diperkuat. "Kami sangat bersinergi dengan sekolah-sekolah pariwisata dan perhotelan untuk terus membina mereka sehingga akan sangat siap bekerja,” ujarnya.

2 hours ago
4















































