Peneliti menemukan sejumlah senyawa karsinogenik dalam aerosol vape.
Rep: Gumanti Awaliyah,Gumanti Awaliyah,/ Red: Gita Amanda
Penjual mencoba rokok elektronik. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi terbaru dari peneliti Australia menyimpulkan bahwa rokok elektrik (vape) berbasis nikotin kemungkinan meningkatkan risiko kanker. Terutama kanker paru-paru serta kanker mulut atau tenggorokan.
Penelitian ini dipimpin oleh Profesor Bernard Stewart dari University of New South Wales (UNSW) dan melibatkan tim ahli lintas disiplin, mulai dari farmasi, epidemiologi, bedah toraks, hingga kesehatan masyarakat. Mereka melakukan tinjauan menyeluruh terhadap berbagai studi sebelumnya serta data penelitian laboratorium.
"Sepengetahuan kami, ini adalah penentuan paling definitif bahwa pengguna vape memiliki risiko kanker lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakan. Berdasarkan bukti dari pemantauan klinis, rokok elektrik kemungkinan menyebabkan kanker paru-paru dan mulut," kata Stewart dilansir dari Express, Jumat (3/4/2026).
Selama ini, rokok elektrik sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman, bahkan disebut sekitar 95 persen lebih rendah risikonya dibandingkan rokok konvensional. Hal ini karena vape tidak membakar tembakau, sehingga tidak menghasilkan tar dan karbon monoksida, dua zat paling berbahaya dalam asap rokok.
Vape juga kerap direkomendasikan sebagai alat bantu bagi orang dewasa yang ingin berhenti merokok. Meski demikian, para ahli kesehatan tetap menegaskan bahwa vape bukan tanpa risiko, dan orang yang tidak merokok sebaiknya tidak mulai menggunakannya.
Dalam laporan tersebut, peneliti menoroti masifya penyebaran vape, terutama perangkat berwarna-warni dengan berbagai rasa, yang kini banyak terlihat di sekitar sekolah, bar, dan stasiun. Salah satu penulis studi, Prof Freddy Silas dari UNSW, menyebut bahwa rokok elektrik juga berpotensi menjadi pintu masuk menuju kebiasaan merokok. la menekankan dampak langsung vape terhadap kanker sebelumnya belum banyak diteliti.
"Bukti yang ada sangat konsisten di berbagai bidang. Ini mengarah pada kesimpulan yang tegas, meskipun studi pada manusia untuk mengukur risiko secara pasti akan membutuhkan waktu puluhan tahun," jelas Prof Silas.
Tim peneliti menemukan sejumlah senyawa karsinogenik dalam aerosol vape, termasuk bahan kimia organik volatil serta logam dari kumparan pemanas. Selain itu, mereka juga mengidentifikasi tanda-tanda biologis pada manusia seperti kerusakan DNA, stres oksidatif, dan peradangan jaringan.
Eksperimen pada hewan menunjukkan adanya pembentukan tumor paru-paru, sementara studi laboratorium mengungkap kerusakan sel serta gangguan jalur biologis yang berkaitan dengan kanker.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Carcinogenesis tersebut menyimpulkan bahwa rokok elektrik berbasis nikotin bersifat karsinogenik pada manusia, meski besarnya risiko kanker masih belum dapat dipastikan.
Penelitian ini turut melibatkan akademisi dari sejumlah institusi, termasuk The University of Queensland, Flinders University, dan The University of Sydney, serta beberapa rumah sakit besar di Australia.

2 hours ago
1
















































