REPUBLIKA.CO.ID,BEIRUT -- Serangan udara Israel kembali mengguncang wilayah selatan Lebanon pada Jumat (2/5/2026), menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai puluhan lainnya. Rentetan serangan ini terjadi meski perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah masih berlaku, sehingga memicu kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik berskala besar di kawasan tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, serangan paling mematikan terjadi di kota Habboush, yang menewaskan delapan orang, termasuk seorang anak dan dua perempuan. Sedikitnya 21 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sebelum serangan dilancarkan militer Israel sempat mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga setempat. Namun, kurang dari satu jam setelah peringatan itu, pesawat tempur Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah tersebut.
Selain Habboush, serangan juga menghantam Zrariyeh dan menewaskan empat orang, dua di antaranya perempuan, serta melukai empat lainnya. Sementara di Ain Baal, dekat kota pesisir Tyre, satu orang dilaporkan tewas dan tujuh lainnya terluka.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan, selain serangan udara, artileri Israel juga menggempur sejumlah wilayah lain di Lebanon selatan, termasuk kawasan sekitar Tyre.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah. Israel menegaskan akan bertindak "dengan tegas" terhadap kelompok yang didukung Iran itu jika dianggap mengancam keamanan.
Meski gencatan senjata diberlakukan sejak 17 April untuk mengakhiri perang yang berlangsung lebih dari enam pekan, Israel terus melancarkan operasi militer di wilayah Lebanon selatan, terutama di area yang dikenal sebagai "Garis Kuning", sekitar 10 kilometer dari perbatasan.
Di wilayah itu, pasukan Israel dilaporkan melakukan penghancuran besar-besaran. NNA menyebut, pasukan Israel meledakkan sejumlah bangunan di kota Shamaa. Di Yaroun, sebuah biara dan sekolah yang dikelola ordo keagamaan turut dihancurkan, bersama rumah-rumah, toko, dan infrastruktur jalan.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap posisi militer Israel di Lebanon selatan sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel.
Konflik ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat, sejak 2 Maret, lebih dari 2.600 orang tewas akibat serangan Israel, termasuk 103 petugas darurat dan paramedis.
Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Xavier Castellanos, mengungkapkan keprihatinannya atas keselamatan para relawan kemanusiaan di lapangan.
"Ketika para relawan berangkat menjalankan misi, mereka takut akan nyawa mereka," ujar Castellanos dilansir Arabnews, Sabtu (2/4/2026).
Ia menegaskan bahwa penyerangan terhadap tenaga medis dan pekerja kemanusiaan merupakan tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.
Dua paramedis Palang Merah Lebanon termasuk di antara korban tewas dalam serangan terbaru ini, mempertegas tingginya risiko yang dihadapi petugas kemanusiaan di tengah konflik yang terus berkecamuk.
"Bahwa seseorang yang berusaha menyelamatkan nyawa, berusaha meringankan penderitaan manusia, mungkin menjadi sasaran, mungkin dibunuh... ini adalah sesuatu yang menurut saya sama sekali tidak dapat diterima,” kata Castellanos kepada wartawan di dekat Beirut.

3 hours ago
2

















































