Sampah Kulonprogo Masih Rendah, Bupati Dorong Warga Pilah dari Rumah

3 hours ago 2

Sampah Kulonprogo Masih Rendah, Bupati Dorong Warga Pilah dari Rumah

Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Meski volume sampah harian di Kabupaten Kulonprogo tergolong paling rendah dibandingkan daerah lain di DIY, Pemkab Kulonprogo tidak ingin lengah. Pemerintah daerah kini mendorong pengelolaan sampah berbasis keluarga dengan mengajak masyarakat melakukan pemilahan sejak dari rumah guna menekan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya memperkuat tata kelola lingkungan secara berkelanjutan. Melalui pola pemilahan sejak sumbernya, sampah yang dikirim ke TPA diharapkan hanya berupa residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan atau diolah kembali.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo, Duana Heru Supriyanta, menjelaskan jumlah sampah yang masuk ke TPA Banyuroto setiap hari saat ini maksimal sekitar 33 ton. Angka tersebut masih jauh di bawah timbulan sampah di kabupaten maupun kota lain di DIY yang rata-rata telah mencapai lebih dari 60 ton per hari.

Menurut Duana, berbagai upaya pengurangan sampah terus dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk melalui sosialisasi dan penerbitan edaran terkait pengelolaan sampah. Salah satu contohnya adalah ajakan mengurangi penggunaan kantong plastik untuk pembagian daging kurban saat perayaan Iduladha lalu.

"Kementerian Lingkungan Hidup itu menuntut agar sampah yang masuk di TPA masing-masing daerah itu bukannya semakin lama itu semakin meningkat, tapi semakin lama harus semakin turun," ujar Duana.

Ia menambahkan, Kulonprogo telah memiliki program pengelolaan sampah bertajuk Kulonprogo Berkelas atau Bersama Kelola Sampah. Program tersebut mengedepankan konsep reduce, reuse, dan recycle (3R) agar sampah dapat ditangani sebelum berakhir di TPA Banyuroto.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong untuk mengurangi produksi sampah, memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang sampah yang memiliki nilai guna. Strategi ini sekaligus menjadi langkah untuk mengendalikan laju penumpukan sampah di TPA.

"Untuk memperpanjang usia penggunaan TPA Banyuroto juga lah," ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kulonprogo Agung Setyawan menegaskan pemerintah daerah berkomitmen menjalankan penataan lingkungan dalam jangka panjang. Salah satu fokus utama yang akan diperkuat adalah penyelesaian persoalan sampah melalui pendekatan ketahanan keluarga.

Menurut Agung, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah. Karena itu, warga didorong mulai memilah sampah langsung dari rumah tangga sehingga volume sampah yang harus ditangani pemerintah dapat ditekan.

"Program penyelesaian masalah sampah yang diawali dari pilah-pilih di keluarga. Jadi kita akan menyiapkan satu program yang memang sampah itu dikelola dari keluarga," ujar Agung kepada wartawan, Senin (8/6/2026).

Ia menilai, pengelolaan sampah dari hulu atau sumbernya merupakan cara paling efektif untuk mengurangi beban TPA Banyuroto. Dengan sistem tersebut, sampah rumah tangga dapat dipisahkan berdasarkan jenis dan potensi pemanfaatannya.

Sampah kertas, plastik, maupun sampah organik diharapkan dapat diolah kembali. Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau pakan maggot sehingga tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Hanya residu yang nanti menjadi PR kita bersama, tetapi sampah kertas, plastik, bahan organik yang bisa dijadikan kompos dan ataupun pakan maggot biar selesai di titik rumah tangga. Kemudian yang belum bisa, bahan-bahan residu yang sulit untuk di-treatment atau diolah, menjadi tanggung jawab DLH," lanjutnya.

Agung mengakui, timbulan sampah di Kulonprogo saat ini memang masih relatif kecil dibandingkan daerah perkotaan besar. Namun kondisi tersebut justru harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata sebelum persoalan sampah berkembang semakin kompleks.

Menurutnya, seluruh elemen masyarakat perlu terlibat sejak sekarang agar tata kelola sampah di Kulonprogo dapat berjalan lebih baik, terarah, dan berkelanjutan pada masa mendatang.

"Nah di sini saya sampaikan Kulonprogo harus banyak mengejar mengenai tata kelola sampah. Meskipun timbulan sampah masih kecil di Kulonprogo, tetapi kita harus memulai selagi kita masih kecil timbulan sampahnya ini, kita harus lebih mengelola lebih baik, lebih terarah," ucap Agung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|