Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah dan kenaikan biaya pembangunan mulai memaksa pengembang memutar strategi agar harga properti tidak melonjak terlalu tinggi. Salah satu tren yang diperkirakan makin masif ialah pembangunan hunian vertikal di kawasan pusat bisnis maupun township besar.
"Kalau misalnya produknya itu ada di CBD-nya mereka, biasanya mereka bangunnya lebih kepada high-rise residential, artinya vertikal," kata Senior Director of Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/5/2016).
Hunian bertingkat dinilai menjadi opsi karena biaya pembangunan bisa dibagi ke lebih banyak unit dalam satu kawasan pengembangan, sehingga tidak langsung menaikkan ke harga jual secara drastis. Selain efisiensi konstruksi, strategi tersebut juga berkaitan dengan harga tanah yang terus meningkat, terutama di kawasan perkotaan dan pusat bisnis.
"Cost untuk bangunnya juga naik tapi tidak signifikan. Kemudian pemakaian lahannya juga tidak besar karena harga lahan juga mahal," sebutnya.
Konsep TOD Jadi Incaran
Sementara untuk segmen residensial yang menyasar masyarakat menengah, pengembang disebut mulai menggeser proyek ke wilayah pinggiran kota agar harga tetap terjangkau bagi konsumen.
"Kalau untuk residensial supaya tetap affordable bagi pembelinya, mereka bangunnya dalam satu kawasan tapi agak lebih di pinggir," kata Milda.
Kini pengembang semakin memperhatikan arah pengembangan tata ruang dan konektivitas transportasi berbasis rel seperti MRT, LRT, maupun KRL karena dinilai mampu memangkas biaya mobilitas masyarakat. Artinya mengincar konsep transit oriented development (TOD), mempertimbangkan akses mobilitas masyarakat.
"Kita lihat sekarang peta RTR maupun tata ruang wilayah dan kota itu sudah berbasis infrastruktur rel. Terutama berbasis rel karena cost-nya cukup bisa menekan transportasi," katanya.
Efisiensi biaya transportasi tersebut dapat dialihkan masyarakat untuk membayar cicilan hunian, terutama apartemen dan kondominium di kawasan penyangga kota besar.
"Ini yang diharapkan developer, dengan adanya moda transportasi ini biaya transportasi bisa terkonversi untuk membeli cicilan kondominium," katanya.
(dce)
Addsource on Google

















































