Pedagang Pasar Tanah Abang Ramai-Ramai Ngaku Omzet Ambruk, Ada Apa?

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat makin resah karena jumlah pembeli semakin berkurang, membuat penjualan pakaian semakin sepi. Bahkan, pedagang mengungkapkan sepinya Tanah Abang membuat omzet penjualan turun drastis.

Salah satunya Limei, pedagang pakaian anak-anak mengungkapkan jumlah pembeli semakin berkurang dan kini tersisa pembeli langganannya. Bahkan, langganannya pun sudah mengurangi jumlah pembelian.

"Kalau pembeli yang bukan langganan, sudah semakin sedikit, yang langganan masih ada dan berkurang, tapi beli barangnya makin berkurang, dari sebelumnya bisa 1 karung, sekarang cuma setengah karung. Ada juga yang sebelumnya beli lusinan, sekarang cuma beli setengah lusin," kata Limei saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Bahkan, penurunan pembeli membuat omzetnya turun hingga sebagian dari penjualannya, atau sekitar 50%.

"Omzet, wah sudah turun banget, ada kali 50%, ya ada separonya lah," lanjutnya.

Limei melanjutkan, pelanggan langganannya mulai mengurangi jumlah pembelian karena biasanya mereka membeli di tokonya untuk dijual kembali. Namun karena juga sepi, sehingga mereka pun mengurangi jumlah pembeliannya.

"Langganan saya kan beli di sini, nanti buat dijual lagi, kebanyakan di luar Jabodetabek ya, tapi karena jualan mereka juga lesu, akhirnya beli di sini enggak banyak-banyak lagi," terangnya.

Senada dengan Limei, Rahmat, pedagang perlengkapan tidur juga mengungkapkan penjualan terus menurun hingga omzetnya sudah berkurang hingga 30%.

Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

"Sejak Covid-19 lah mulai sepinya, tapi mulai 2025, makin sepi dan tahun ini, ya mau pasrah tapi bagaimana ya, pokoknya omzet sudah turun 30%," kata Rahmat.

Bahkan sebelum Covid-19 atau saat masih ramai, Ia sempat membuka dua gerai bersebelahan, karena membuka satu gerai saat itu tidak cukup. Sayangnya sejak Covid-19, Ia tak sanggup untuk menyewa satu gerai dan terpaksa ditutup.

"Dulu sebelum Covid-19, kami buka 2 gerai, di sini sama disebelahnya, cuma gara-gara ada Covid-19, dan setelah itu Tanah Abang makin sepi, ya kami terpaksa hanya buka 1 ruko saja, karena sudah enggak kuat," terang Rahmat.

Rahmat menambahkan, dirinya mengaku tidak membuka toko jika hari-hari tertentu terlihat lebih sepi dari biasanya. Bahkan kini, Ia juga lebih cepat menutup tokonya.

"Kadang kalau pasar lagi sepi-sepinya, ya kami enggak buka, tapi ya jarang sih, kalau kami enggak buka sering-sering, yang ada penghasilan dapat dari mana," ujarnya.

Sementara itu Surono, pedagang pakaian batik dan muslim pria mengaku omzetnya sudah turun hingga 60%. Bahkan, Ia menyebut kejayaan Tanah Abang sudah berakhir.

"Kalau ditanya omzet turun berapa, wah, sudah besar banget sih, ada mungkin 60%. Era kejayaan Tanah Abang sejatinya sudah berakhir," kata Surono.

Ia membeberkan Tanah Abang sejatinya sudah mulai semakin sepi sejak 2025. Namun saat ini, kondisinya makin memprihatinkan.

"Ya sekarang antara mau sedih atau pasrah, tapi kalau mau pasrah pun ya makin begini kondisinya, harga-harga semakin mahal, tapi penghasilan kita makin turun, bayar sewa dan listrik lanjut terus, total bayar sewa-listrik bisa sejuta lebih," ucapnya.

(chd/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|