Rupiah Melemah, 74 Persen Warga Indonesia Mengaku Terdampak

4 hours ago 2

Rupiah Melemah, 74 Persen Warga Indonesia Mengaku Terdampak

Foto ilustrasi uang - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin menjadi perhatian publik. Hasil survei nasional terbaru dari Indopol menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia tidak hanya mengetahui kondisi ini, tetapi juga mulai merasakan dampaknya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 74,96% responden mengaku mengetahui bahwa rupiah tengah melemah terhadap dolar AS. Dari jumlah tersebut, 42,68% menyatakan sudah merasakan dampaknya secara nyata, mulai dari kenaikan harga barang hingga tekanan pada daya beli. Sementara 32,28% lainnya mengetahui situasi tersebut, namun belum merasakan efek langsung.

Di sisi lain, masih ada sekitar 25,04% responden yang mengaku belum mengetahui adanya pelemahan rupiah. Meski demikian, tingkat kesadaran publik secara umum dinilai cukup tinggi, seiring meningkatnya perhatian terhadap kondisi ekonomi nasional.

Lebih lanjut, survei juga mengungkap bahwa 73,98% responden merasakan dampak pelemahan rupiah dengan tingkat yang berbeda-beda. Sebanyak 18,21% merasa sangat terdampak, dan 30,65% mengaku cukup terdampak. Adapun 25,12% hanya merasakan dampak ringan, sementara 10,08% tidak merasakan dampak sama sekali. Sisanya, 15,93% responden mengaku tidak dapat menilai.

Survei ini dilakukan terhadap 1.230 responden di 38 provinsi dengan metode multistage random sampling dan memiliki margin of error sekitar ±2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.

Temuan tersebut muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini turut menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dalam sebuah seminar ekonomi, Jusuf Kalla menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari meningkatnya kecenderungan masyarakat dan pelaku usaha untuk menyimpan dolar AS dibandingkan rupiah. Menurutnya, fenomena ini berkaitan erat dengan mekanisme supply dan demand.

“Semakin banyak orang menyimpan dolar, maka permintaan dolar meningkat dan nilai rupiah akan terus tertekan,” ujarnya, Selasa (9/6/2026)

Meski sempat menguat sekitar 0,94% atau 170 poin pada perdagangan terbaru, secara keseluruhan rupiah masih melemah sekitar 7% sejak awal tahun (year-to-date). Selain nilai tukar, pelemahan juga tercermin di pasar modal serta menurunnya daya beli masyarakat di sektor riil.

Pemerintah pun merespons kondisi ini melalui kebijakan moneter. Salah satunya dengan menaikkan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut langkah ini penting untuk memberikan sinyal positif kepada pasar dan investor.

BI diketahui menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%, setelah sebelumnya juga menaikkan 50 basis poin pada Mei 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.100 per dolar AS.

Menurut Airlangga, pasar membutuhkan respons cepat dan tegas dari pemerintah agar kepercayaan investor tetap terjaga di tengah gejolak global. Selain itu, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri—termasuk untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen—juga menjadi faktor tekanan tambahan bagi rupiah.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pemerintah kini lebih mengutamakan stabilitas ekonomi dibandingkan mendorong pertumbuhan melalui suku bunga rendah seperti sebelumnya. Kebijakan ini diharapkan mampu menahan tekanan lebih lanjut terhadap rupiah sekaligus menjaga kepercayaan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|