Ribuan KDMP Sudah Dibangun, Model Bisnis Baru Disusun

3 hours ago 7

Ribuan KDMP Sudah Dibangun, Model Bisnis Baru Disusun

Foto ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, MALANG—Kementerian Koperasi terus mempercepat persiapan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Salah satu fokus utama yang kini dimatangkan adalah penyusunan model bisnis dan studi kelayakan agar Koperasi Merah Putih mampu berjalan produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa dan kelurahan.

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menjelaskan, selain menyelesaikan aspek bisnis, pemerintah juga terus mempercepat pembangunan gerai Koperasi Merah Putih. Hingga kini, sekitar 13.000 gerai telah selesai dibangun, sementara sekitar 20.000 gerai lainnya masih dalam proses penyelesaian.

"Operasional kegiatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sedang kami matangkan bisnis model dan feasibility study-nya," kata Ferry saat membuka agenda Sarasehan Nasional MPDI di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu.

Menurut Ferry, penyusunan model bisnis menjadi tahapan penting agar Koperasi Merah Putih mampu menggerakkan roda perekonomian desa secara lebih produktif. Oleh sebab itu, potensi keuntungan atau profit dari setiap unit usaha harus dihitung secara cermat sehingga keberadaannya benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam operasionalnya nanti, Koperasi Merah Putih akan berfungsi sebagai saluran distribusi berbagai barang bersubsidi, mulai dari elpiji 3 kilogram, pupuk bersubsidi, beras, hingga minyak goreng. Pemerintah juga menargetkan distribusi barang tersebut berjalan lebih efektif dengan harga yang tetap terjangkau.

Ferry menegaskan, penyaluran elpiji 3 kilogram melalui Koperasi Merah Putih harus dibarengi dengan jaminan ketersediaan stok sesuai kebutuhan masyarakat di setiap desa maupun kelurahan. Hal yang sama juga diterapkan pada pupuk bersubsidi yang akan disalurkan langsung oleh PT Pupuk Indonesia kepada koperasi tersebut.

"Begitu pun pupuk subsidi, PT Pupuk Indonesia langsung ke Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," ujarnya.

Selain menjadi pusat distribusi barang subsidi, Koperasi Merah Putih juga diproyeksikan sebagai wadah pemasaran berbagai komoditas hasil produksi masyarakat. Produk pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, hingga kerajinan lokal akan diserap dan diperdagangkan dengan harga yang kompetitif sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi para pelaku usaha di desa.

Ferry menyebutkan pembangunan gerai Koperasi Merah Putih dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara yang berkolaborasi dengan TNI. Kolaborasi tersebut dinilai mampu mempercepat penyelesaian pembangunan gerai di berbagai daerah.

"Dan yang sedangkan berlangsung sekitar 20 ribuan," ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Ferry menjelaskan program Koperasi Merah Putih pada awalnya merupakan kebijakan yang dirancang secara top down. Namun, dalam implementasinya, pemerintah melibatkan kepala daerah, perangkat daerah, hingga berbagai dinas terkait agar pelaksanaannya sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Ia menambahkan, proses pembentukan badan hukum setiap Koperasi Merah Putih juga dilakukan melalui musyawarah khusus di tingkat desa dan kelurahan. Mekanisme tersebut menjadi ruang partisipasi masyarakat sehingga pengembangan koperasi tidak hanya berasal dari kebijakan pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan aspirasi warga di tingkat lokal.

"Jadi tetap bottom up, ada peristiwa yang melibatkan masyarakat," ujar dia pula.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|