Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia diperdiksi bakal mengalami musim kemarau yang lebih panas, kering, dan panjang di tahun 2026. Dengan potensi adanya fenomena anomali iklim El Nino kuat.
Meski, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki pandangan sedikit berbeda mengenai seberapa kuat El Nino yang akan melanda Indonesia.
Hasil Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I April 2026 yang dirilis BMKG pada Senin, 13 April 2026 mengungkapkan, saat ini sebanyak 7,8% wilayah Indonesia atau sekitar Zona Musim (ZOM) sudah mengalami musim kemarau.
Wilayah yang sedang mengalami musim kemarau meliputi sebagian kecil Aceh, sebagian kecil Sumatra Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Kep. Riau, sebagian kecil Banten, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Bali, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah,sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian Maluku, dan sebagian Papua Barat Daya.
"Hasil monitoring pada Dasarian I April 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (indeks bulanan) sebesar +0.15(+0.023), mengindikasikan fonemena IOD berada pada fase Netral. Sementara itu, indeks ENSO Dasarian (ENSO bulanan) sebesar +0.28 (-0.01) menunjukkan fenomena ENSO juga berada pada fase Netral" tulis BMKG, dikutip dari situs resmi, Selasa (14/4/202).
"Kondisi ENSO Netral diprediksi masuk fase El Nino mulai Mei-Juni-Juli 2026," tambah BMKG.
Curah Hujan Berkurang
BMKG pun mengeluarkan peringatan dini potensi kejadian kekeringan meteorologis, berlaku untuk Dasarian II April 2026, yaitu:
- Waspada
Beberapa kabupaten di Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah
- Siaga
Beberapa kabupaten di Provinsi Aceh.
Curah hujan di Indonesia pada periode Dasarian II hingga Dasarian I Mei 2026 pada umumnya diprediksi dalam kategori rendah, kurang dari 50 mm/dasarian.
Dalam Rapat Koordinasi Strategi Mitigasi dan Penanggulangan Dampak Musim Kemarau Panjang Tahun 2026 yang diselenggarakan di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Jakarta, Senin (13/4/2026), Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
"Kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28. Namun demikian, pada semester kedua 2026 kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen," kata Faisal.
"Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering," tambahnya menjelaskan.
Peluang El Nino Kuat
Sebelumnya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan dari predks BMKG, potensi intensitas El Nino yang akan melanda Indonesia adalah kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%.
Dan, sambungnya, BMKG mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat.
Namun, Ardhasena mengingatkan, hati-hati menginterpretasikan data prediksi saat ini. Alasannya, ada fenomena spring predictability barrier-penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei).
Dia menjelaskan, akurasi prediksi El Nino yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan.
Karena itu, tegasnya, diperlukan expertise dalam pemahaman interaksi multi-faktor yang menyebabkan lahirnya kondisi El Nino maupun dampak telekoneksinya ke wilayah Indonesia.
"Untuk itu BMKG perlu terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya," kata Ardhasena.
"Tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Nino akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan," terangnya.
Meski perkembangan intensitas El Nino masih terus dipantau, Ardhasena menegaskan, musim kemarau tahun 2026 ini akan lebih kering.
"BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia," kata Ardhasena.
Monster Godzilla El Nino
Sementara, BRIN memprediksi, intensitas El Nino tahun ini bakal sangat kuat. Bahkan menamainya sebagai El Nino Godzilla dan mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
Dikatakan, kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, dikutip Selasa (14/4/2026).
Dikatakan, sejumlah model global menunjukkan El Nino mulai berkembang sejak April 2026. Pada saat yang sama, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga diperkirakan terjadi dan memperkuat dampak kekeringan di Indonesia.
"Godzilla El Nino + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya nggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak 'nongkrong' di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja," tulis BRIN.
"Izin, ini bukan buat menakut-nakutin ya, KawanBRIN. Tapi biar kita bisa lebih siap dari sekarang. Yuk, mulai hemat air, jaga kesehatan, dan lebih aware sama kondisi sekitar" tambah BRIN.
Erma mengingatkan, pentingnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi dampak yang kompleks dan berbeda antarwilayah.
"Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah di Pantura Jawa. Selain itu, dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," ucap dia.
"Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor," kata Erma.
Apa itu El Nino dan apa dampak ke Indonesia?
Mengacu situs resmi BMKG, ENSO adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya.
Disebutkan, iklim di Samudra Pasifik terbagi ke dalam 3 fase. Yaitu, El Nino, La Nina, dan Netral.
Pada fase Netral, angin pasat berhembus dari timur ke arah barat melintasi Samudra Pasifik menghasilkan arus laut yang juga mengarah ke barat dan disebut dengan Sirkulasi Walker. Suhu muka laut di barat Pasifik akan selalu lebih hangat dari bagian timur Pasifik.
Sementara saat fase El Nino, angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik. Air hangat yang bergeser ke timur menyebabkan penguapan, awan, dan hujan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia. Hal ini berarti Indonesia mengalami peningkatan risiko kekeringan.
Dan, ketika terjadi fase La Nina, hembusan angin pasat dari Pasifik timur ke arah barat sepanjang ekuator menjadi lebih kuat dari biasanya. Menguatnya angin pasat yang mendorong massa air laut ke arah barat, maka di Pasifik timur suhu muka laut menjadi lebih dingin. Bagi Indonesia, hal ini berarti risiko banjir yang lebih tinggi, suhu udara yang lebih rendah di siang hari, dan lebih banyak badai tropis.
"Dalam istilah ilmu iklim saat ini, El Nino menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur dan tengah yang lebih panas dari normalnya, sementara anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian barat dan perairan Indonesia yang biasanya hangat (warm pool) menjadi lebih dingin dari normalnya," tulis BMKG.
"Pada saat terjadi El Nino, daerah pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudra Pasifik bagian tengah, menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia," jelas BMKG.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































