RI Akan Gencar Pakai Aspal Buton Ketimbang Impor, Bisa Hemat Segini

15 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan langkah pemerintah untuk memperkuat kemandirian material konstruksi jalan dengan mendorong pemanfaatan aspal Buton (Asbuton) sebagai substitusi impor. Arah kebijakan ini menjadi bagian dari strategi besar efisiensi nasional di sektor infrastruktur, khususnya dalam pengendalian biaya dan ketahanan pasokan material.

"Kementerian Pekerjaan Umum telah mengambil langkah-langkah konkret, salah satunya melalui penguatan kemandirian material konstruksi jalan sebagai bagian dari upaya pengendalian kinerja dan efisiensi nasional. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menegaskan komitmen kami semua di Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendorong swasembada aspal nasional melalui pemanfaatan aspal buton atau yang kita kenal sebagai Asbuton," ujar Dody dalam halal bi halal Kementerian PU, Kamis (2/4/2026).

Di tengah kebutuhan yang terus meningkat, pemerintah melihat adanya ketimpangan antara konsumsi nasional dan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri yang masih dominan, dimana kebutuhan aspal nasional kita pada hari ini mencapai kurang lebih 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun di tahun-tahun mendatang.

"Namun demikian, sekitar hampir 80% masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi atau impor. Di sisi lain, kita memiliki cadangan mineral yang bernama aspal buton yang sangat besar di Pulau Buton, namun pemanfaatannya saat ini masih sangat-sangat terbatas. Hal ini masih sekitar mungkin 4% dari total kebutuhan nasional," jelasnya.

Pemerintah pun mulai mengarahkan kebijakan agar penggunaan Asbuton dapat meningkat signifikan dalam proyek jalan nasional sebagai bagian dari substitusi impor secara bertahap. Kementerian Pekerjaan Umum akan mendorong pemanfaatan komoditas lokal melalui penggunaan aspal buton dalam konstruksi jalan nasional hingga mencapai minimal 30%.

Selain mengurangi ketergantungan impor, kebijakan ini juga dinilai membawa dampak ekonomi yang luas, mulai dari penghematan devisa hingga penguatan industri dalam negeri.

"Potensi penghematan devisa negara dapat mencapai sekitar Rp4 triliun dan dengan penambahan penerimaan pajak sekitar hampir Rp2 triliun. Kebijakan ini akan mendorong tumbuhnya industri aspal buton domestik, menciptakan rantai pasok baru di dalam negeri, dan memperkuat struktur industri nasional," paparnya.

Ia juga menyoroti bahwa selama ini komoditas Asbuton justru lebih banyak dimanfaatkan oleh negara lain, sehingga sudah saatnya Indonesia mengoptimalkan sumber daya tersebut untuk kepentingan domestik.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (tengah) dalam Silaturahmi dengan Media di kantor Kementerian PU, Kamis (2/4/2016). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Foto: Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (tengah) dalam Silaturahmi dengan Media di kantor Kementerian PU, Kamis (2/4/2016). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo (tengah) dalam Silaturahmi dengan Media di kantor Kementerian PU, Kamis (2/4/2016). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

"Kalau selama ini aspal buton bisa dipakai oleh negara lain, kenapa kita tidak bisa memakai sendiri? Jadi Bapak Ibu sekalian, aspal buton selama ini banyak diekspor. Dan kalau bisa dipakai oleh negara lain, insyaallah kita juga bisa memakai itu juga," lanjutnya.

Dari sisi tata kelola, peningkatan penggunaan Asbuton diyakini akan mendorong perbaikan standar mutu sekaligus memperkuat daya saing industri pengolahan dalam negeri.

"Penggunaan aspal buton akan meningkatkan kualitas pengadaan dan standar mutu, baik pada penyelenggara jalan, produsen, asosiasi, maupun pada penyedia jasa konstruksi," katanya.

Lebih jauh, pengembangan industri ini diperkirakan memberi efek berganda terhadap ekonomi nasional, termasuk penciptaan lapangan kerja.

"Pengembangan industri aspal buton diperkirakan dapat menciptakan nilai tambah ekonomi hingga kurang lebih Rp23 triliun, sekaligus membuka ribuan lapangan kerja baru bagi masyarakat," imbuhnya.

Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa langkah ini bukan tanpa tantangan, terutama dari sisi kesiapan teknologi dan adopsi industri yang belum merata.

"Kebijakan ini bukan hanya tentang mengganti material, tapi tentang kemampuan kita untuk semakin mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita memang harus diakui, tidak sedang memilih yang mudah karena teknologinya belum terlalu masif, tapi kita lebih memilih untuk berdiri lebih mandiri," ungkap Dody.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa optimalisasi Asbuton menjadi bagian dari agenda besar pembangunan nasional ke depan.

"Optimalisasi penggunaan aspal buton dalam pembangunan jalan merupakan langkah strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan efisiensi fiskal, serta menjaga ketahanan pasokan material dalam jangka panjang, sekaligus mendukung RPJMN 2025-2029 menuju swasembada aspal nasional," pungkasnya.

(wur/wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|