
Tim pelatih PSS Sleman memberikan arahan kepada pemain dalam latihan set piece di Lapangan Pakembinangun, Rabu (19/8/2026)/Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN— PSS Sleman mulai memperkuat salah satu aspek yang berpotensi menentukan hasil pertandingan pada Super League musim 2026/2027. Pelatih Kepala PSS Sleman Pieter Huistra memberikan perhatian khusus terhadap skema bola mati atau set piece, baik untuk membuka peluang mencetak gol maupun meredam ancaman dari lawan.
Materi latihan set piece itu diberikan kepada skuad Super Elja di Lapangan Pakembinangun pada Rabu (19/8/2026) sore. Para pemain menjalani sejumlah simulasi yang berkaitan dengan tendangan bebas dan tendangan sudut.
Bagi Huistra, latihan tersebut bukan sekadar materi tambahan dalam persiapan kompetisi. Pelatih asal Belanda itu menilai kemampuan menjalankan skema bola mati secara terorganisir menjadi bagian penting dari permainan sepak bola modern.
"Ya, dalam sepak bola modern sangat penting punya set piece yang terorganisir," kata Huistra.
PSS Sleman Siapkan Serangan dan Pertahanan Bola Mati
Set piece memberikan kesempatan bagi sebuah tim untuk menciptakan peluang ketika permainan terbuka tidak menghasilkan ruang yang cukup. Karena itu, PSS Sleman tidak hanya berlatih bagaimana memanfaatkan tendangan bebas dan sepak pojok untuk mencetak gol, tetapi juga mempersiapkan pertahanan ketika menghadapi situasi serupa.
Huistra menilai tim yang menjadi sasaran eksekusi bola mati harus memiliki organisasi pertahanan yang jelas. Setiap pemain perlu mengetahui posisi dan tugasnya agar skema lawan dapat diantisipasi.
Perhatian tersebut juga berkaitan dengan calon lawan PSS Sleman di Super League 2026/2027. Huistra menyoroti permainan Bali United saat menghadapi Persib Bandung beberapa waktu lalu, terutama ketika tim berjuluk Serdadu Tridatu memperoleh tendangan bebas dan sepak pojok.
"Mungkin anda menyaksikan pertandingan Bali vs Persib kemarin. Kamu bisa lihat Bali sangat berbahaya dari situasi tendangan bebas dan sepak pojok. Jadi kita harus bersiap untuk itu," tegas Huistra.
PSS Sleman pun memiliki sejumlah pemain yang dapat dimanfaatkan dalam situasi bola mati. Di lini depan, Matheus Fornazari memiliki keunggulan fisik dengan tinggi 2,03 meter, sedangkan Gustavo Tocantins yang menjadi top skor PSS Sleman musim lalu juga memiliki kemampuan menyundul bola.
Kekuatan duel udara juga tersedia di lini belakang PSS Sleman. Cleberson, Lucao, hingga Christophe Nduwarugira menjadi pemain yang dapat berperan ketika tim menghadapi bola-bola atas dari skema lawan.
Kemampuan tersebut bisa digunakan untuk dua kebutuhan. Saat bertahan, para pemain dapat membantu menghalau bola dari area berbahaya, sedangkan ketika PSS Sleman mendapatkan set piece, kemampuan duel udara dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peluang gol.
"Kita punya penanduk bola yang bagus, kita punya pemain-pemain bertahan yang kuat, jadi itu seharusnya membantu. Tapi tetap saja harus dilatih," ujarnya.
Semua Pemain PSS Sleman Harus Paham Tugas
Huistra tidak ingin PSS Sleman hanya mengandalkan kemampuan individu pemain dalam menghadapi bola mati. Menurutnya, latihan diperlukan agar seluruh pemain memahami peran masing-masing ketika sebuah skema dijalankan.
Hal itu juga berlaku bagi pemain baru yang bergabung dengan tim. Mereka harus memahami posisi dan tugas yang harus dijalankan ketika PSS Sleman memperoleh ataupun menghadapi situasi bola mati.
"Semua orang harus tahu persis apa yang harus dilakukan. Pemain baru yang masuk harus tahu tugasnya," ujarnya.
Selain mengetahui tugas sendiri, pemain PSS Sleman juga dituntut mampu membaca gerakan lawan. Huistra ingin anak asuhnya tidak hanya menunggu skema lawan berjalan, tetapi dapat mengantisipasi dan membaca arah permainan.
"Harus bisa membaca apa yang dilakukan lawan dan kita juga harus mencoba mengecoh serta mengejutkan lawan," imbuh Huistra.
Latihan set piece karena itu diarahkan pada dua sisi permainan. PSS Sleman perlu memiliki pola yang jelas ketika menyerang melalui bola mati, sekaligus organisasi yang mampu membatasi peluang lawan dari situasi serupa.
Pieter Huistra Tak Ingin PSS Andalkan Keberuntungan
Huistra juga menargetkan bola mati dapat menjadi salah satu sumber gol PSS Sleman pada kompetisi musim 2026/2027. Namun, target itu menurutnya harus dibangun melalui latihan, bukan sekadar mengandalkan situasi pertandingan.
Tendangan bebas dan sepak pojok memiliki peluang menghasilkan gol apabila seluruh pemain memahami pola yang dijalankan. Karena itu, latihan intensif dibutuhkan agar kesempatan yang muncul dalam pertandingan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Kita juga ingin mencetak gol dari tendangan bebas, jadi harus dilatih. Kalau tidak dilatih, keberhasilan cuma bergantung pada keberuntungan. Tapi kalau dilatih, kita bisa mendorong keberuntungan itu datang," tegasnya.
Persiapan bola mati tersebut menjadi bagian dari latihan PSS Sleman menjelang bergulirnya Super League musim 2026/2027. Dengan materi yang mencakup pola menyerang dan bertahan, Huistra meminta seluruh pemain memahami peran masing-masing ketika situasi set piece terjadi.
PSS Sleman juga memiliki modal pemain dengan kemampuan duel udara, mulai dari Matheus Fornazari dan Gustavo Tocantins di lini depan hingga Cleberson, Lucao, dan Christophe Nduwarugira di lini belakang. Namun, Huistra tetap menekankan pentingnya latihan agar kemampuan tersebut dapat terintegrasi dalam skema tim.
Dengan demikian, latihan bola mati di Lapangan Pakembinangun tidak hanya diarahkan untuk mencari celah mencetak gol. Materi tersebut juga dipersiapkan sebagai bagian dari cara PSS Sleman menghadapi ancaman set piece dari tim lawan, termasuk Bali United yang mendapat perhatian khusus dari Huistra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































