Gandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prodia Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini
PURWOKERTO — PT Prodia Widyahusada Tbk (kode saham: PRDA) kembali memperkuat komitmennya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini thalassemia melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Tahun ini, Prodia memperluas edukasi dan skrining thalassemia ke wilayah Banyumas dengan berkolaborasi bersama Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Kegiatan Seminar dan Skrining Thalassemia digelar di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP dan melibatkan sekitar 1.000 mahasiswa.
Program tersebut merupakan bagian dari implementasi pilar keberlanjutan Prodia, Promoting Healthcare Services for All dan Involving People. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-being, melalui perluasan akses pemeriksaan kesehatan, edukasi, serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesehatan.
Kegiatan tersebut diresmikan oleh Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dani Esti Novia. Hadir pula Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof. Dr. Jebul Suroso, S.Kp., Ns., M.Kep.; Finance & Sustainability Director PT Prodia Widyahusada Tbk, Marina Eka Amalia, S.H., M.H.; Ketua III Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) Kabupaten Banyumas, Wahyono, S.IP.; serta Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Banyumas, Siti Aminah, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, dr. Dani Esti Novia, Bupati Banyumas mengapresiasi pelaksanaan program edukasi dan skrining thalassemia yang melibatkan generasi muda.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan penting untuk memperluas edukasi kesehatan sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap langkah-langkah preventif.

Bupati juga berpesan kepada sekitar 1.000 mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut agar pengetahuan mengenai thalassemia yang diperoleh dapat disampaikan kembali kepada keluarga dan teman.
“Pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan edukasi dan skrining thalassemia ini diharapkan dapat disampaikan kepada keluarga dan teman. Kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” kata Bupati dalam sambutan yang dibacakan.
Ia menyebut persoalan thalassemia bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat Banyumas. Saat ini, terdapat sekitar 657 pasien thalassemia yang menjalani perawatan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas.
“Kalau berbicara soal thalassemia, ada pasien yang membutuhkan perawatan dan pengobatan berkelanjutan, ada keluarga yang terus-menerus mendampingi, serta biaya dan perhatian yang harus diberikan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Karena itu, menurut Bupati, upaya memutus mata rantai thalassemia perlu dilakukan secara bersama-sama. Penanganan tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga pada upaya pencegahan melalui edukasi dan deteksi dini.
Bupati berharap kegiatan skrining dan edukasi thalassemia dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Generasi muda juga diharapkan semakin peduli terhadap kondisi kesehatan sehingga dapat menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai thalassemia.
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prof. Dr. Jebul Suroso, S.Kp., Ns., M.Kep., menilai kolaborasi dengan Prodia memberikan manfaat positif bagi mahasiswa, khususnya dalam memperluas pemahaman mengenai thalassemia.
Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya skrining dan menjaga kesehatan sejak dini.
Sementara itu, Finance & Sustainability Director PT Prodia Widyahusada Tbk, Marina Eka Amalia, mengatakan kolaborasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda.
“Bagi Prodia, mendukung kesehatan masyarakat berarti hadir tidak hanya ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, tetapi juga sejak langkah awal untuk lebih mengenal dan menjaga kesehatannya. Melalui program ini, kami ingin mendampingi generasi muda membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai sejak dini melalui edukasi, langkah preventif, dan pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi diri,” ujar Marina.
Thalassemia merupakan kelainan darah yang berkaitan dengan pembentukan hemoglobin dan dapat diturunkan secara genetik (hereditary). Seseorang yang membawa sifat thalassemia (carrier) dapat terlihat sehat dan tidak selalu menunjukkan gejala.
Karena itu, edukasi dan skrining menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatan lebih awal. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang penting untuk mendapatkan pemahaman mengenai thalassemia sejak dini, termasuk pentingnya mengenali kondisi kesehatan diri sebagai bekal dalam mempersiapkan masa depan.
Dalam program ini, skrining dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas pemeriksaan dan stabilitas sampel. Dengan target 1.000 peserta, pengambilan sampel dilakukan pada 17-24 September 2026 di kawasan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan seminar bersama klinisi Patologi Klinik/Dokter Spesialis Imunologi Prof. Tonang Dwi Ardyanto, dr., SpPK, Subsp. IK(K), PhD, FISQua, CHAE, serta dosen Fakultas Kedokteran UMP, Dr. dr. Dewi Karita, M.Sc. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi bersama Dinar Faiza, Ketua PPTI, dan Siti Aminah, Ketua POPTI Banyumas.
Prof. Tonang menjelaskan bahwa Indonesia termasuk wilayah dengan prevalensi thalassemia yang cukup tinggi. Sekitar 3-10 persen populasi disebut merupakan pembawa sifat thalassemia.
“Indonesia berada di kawasan thalassemia belt dan menjadi salah satu wilayah dengan angka hemoglobinopati yang cukup tinggi,” ujar Tonang.
Selain seminar dan skrining, rangkaian kegiatan dilengkapi sesi berbagi bersama YTI dan POPTI Banyumas serta berbagai aktivitas edukatif yang melibatkan mahasiswa. Di antaranya kompetisi konten mengenai thalassemia dan video blogging (vlog) selama kegiatan CSR berlangsung.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman dan akses pemeriksaan, tetapi juga didorong untuk turut menyebarkan informasi mengenai thalassemia kepada kerabat, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.
Program CSR edukasi dan skrining thalassemia telah dijalankan Prodia secara berkelanjutan sejak 2010 sebagai bentuk kepedulian terhadap edukasi dan deteksi dini, khususnya di kalangan generasi muda.
Ke depan, Prodia berkomitmen terus memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan guna memperluas manfaat program serta mendorong semakin banyak masyarakat memahami pentingnya edukasi dan skrining thalassemia. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































