Prediksi Harga Emas Naik, Investor Bidik Level 4.503 Dolar AS

9 hours ago 7

Harianjogja.com, JAKARTA—Prospek harga emas masih dinilai positif seiring meningkatnya ekspektasi perubahan suku bunga dan tanda-tanda pelemahan ekonomi Amerika Serikat (AS). Harga emas berpeluang melanjutkan penguatan pada pekan depan, bahkan menguji level US$4.503 per troy ounce.

Berdasarkan data TradingView pada Minggu (16/8/2026), harga emas di pasar spot naik 0,59% menjadi US$4.376,82 per troy ounce pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026). Sementara itu, harga emas Comex menguat 0,38% menjadi US$4.437,3 per troy ounce.

Dalam sepekan, emas pasar spot tercatat naik 0,84%, sedangkan emas Comex menguat 0,85%.

Ekspektasi Suku Bunga Jadi Pendorong

Pippa Malmgren, mantan anggota National Economic Council, mengatakan alasan investor memburu emas masih berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS dan potensi perlambatan ekonomi global.

Investor, menurut dia, mencermati belanja fiskal AS yang dinilai tidak terkendali, sementara pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berpotensi melemah.

“Kondisi ini mengindikasikan inflasi,” kata Malmgren dikutip dari CNBC International, Minggu (16/8/2026).

Ia menambahkan, kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang mengejar perang di luar negeri dengan biaya besar serta dukungannya terhadap mata uang kripto turut meningkatkan kekhawatiran investor.

Situasi tersebut mendorong sebagian investor mengambil langkah konservatif untuk mempertahankan nilai aset, salah satunya melalui emas.

Selain investor, bank sentral berbagai negara juga terus meningkatkan kepemilikan emas. Malmgren menilai tren tersebut menunjukkan berkurangnya kepercayaan terhadap mata uang fiat, terutama dengan pembelian emas yang terus dilakukan China.

Patrick Kennedy, pendiri sekaligus managing partner AllSource Investment Management, turut menyoroti aksi pembelian emas oleh bank sentral.

Menurut Kennedy, People's Bank of China (PBOC) menambah cadangan emas sebanyak 19,9 ton pada Juli 2026. Penambahan tersebut menjadi yang terbesar dalam satu bulan sejak Oktober 2023.

“Catatan tersebut sekaligus memperpanjang akumulasi emas PBOC menjadi 21 bulan berturut-turut,” jelas Kennedy.

Emas Dinilai Masih dalam Awal Reli

Optimisme terhadap prospek emas juga disampaikan miliarder sekaligus manajer hedge fund John Paulson. Ia menilai emas baru memasuki tahap awal reli jangka panjang.

Menurut Paulson, berkurangnya kepercayaan terhadap mata uang kertas serta meningkatnya belanja pemerintah menjadi faktor yang mendukung harga emas.

Paulson sendiri dikenal sebagai salah satu investor yang bullish terhadap emas sejak 2009.

Meski ketakutan secara historis menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan emas, Joe Cavatoni, senior market strategist World Gold Council, melihat penguatan terbaru di kalangan investor AS lebih mencerminkan perdagangan oportunistis.

“Kenaikan emas baru-baru ini tampaknya lebih banyak didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap suku bunga dan ekonomi dibandingkan oleh ketakutan semata,” kata Cavatoni.

Ia mengatakan terdapat sejumlah tanda pelemahan ekonomi AS, khususnya dari pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat pasar dengan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan ekonomi dan prospek suku bunga.

“Ketika investor menyesuaikan prospek suku bunga, emas bereaksi seperti yang diharapkan dari aset yang sangat sensitif terhadap kondisi makroekonomi,” ujarnya.

Cavatoni menilai arus dana dari investor AS yang mendorong harga emas saat ini cenderung bersifat taktis. Sebaliknya, pembelian emas oleh investor Asia dan Eropa lebih bersifat jangka panjang dan stabil.

Harga Emas Berpeluang Uji US$4.503

Rich Checkan, Chief Operating Officer Asset Strategies International, juga optimistis reli emas masih berlanjut.

Menurutnya, laju inflasi konsumen dan produsen AS sedikit melandai pada bulan sebelumnya. Meskipun harga masih mengalami kenaikan, laju peningkatannya mulai berkurang.

Kondisi tersebut, ditambah penurunan bersih jumlah lapangan kerja baru dan peningkatan klaim pengangguran baru, membuat investor memperkirakan Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September.

“Emas melonjak setelah data terbaru tersebut dirilis dan memantul kuat dari level konsolidasi di sekitar US$4.000 per troy ounce,” ujar Checkan dikutip dari Kitco News.

Marc Chandler, Managing Director Bannockburn Global Forex, memperkirakan harga emas kembali menguat pada pekan depan. Ia memproyeksikan emas berpotensi menguji level rata-rata pergerakan 200 hari atau 200-day moving average di sekitar US$4.503 per troy ounce.

“Saya memperkirakan harga emas akan menguji rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar US$4.503,” kata Chandler.

Ia mencatat harga emas belum mampu menembus level tersebut sejak pekan pertama Juni.

Sementara itu, Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, memperkirakan kenaikan harga emas berlangsung lebih moderat.

Menurutnya, prospek kenaikan suku bunga di satu sisi dan kondisi fiskal yang semakin lemah di sisi lain masih menjadi faktor yang membuat emas bergerak dalam rentang terbatas.

“Konflik yang terus berlangsung antara prospek suku bunga yang lebih tinggi di satu sisi dan kondisi fiskal yang lebih lemah di sisi lainnya membuat emas tetap berada dalam rentang perdagangan, dengan dukungan yang sangat kuat di sisi bawah, tetapi belum siap untuk melonjak lebih tinggi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|