REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — President University menambah tiga Guru Besar pada April 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kualitas akademik dan riset di lingkungan kampus.
Pengukuhan dilakukan dalam dua sesi, masing-masing pada 8 April 2026 dan 21 April 2026. Tiga akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Anton Wachidin Widjaja, Prof. Erwin Parasian Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar.
Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi M Samsuri mengatakan, jabatan Guru Besar merupakan kontribusi strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Menjadi Guru Besar bukan hanya capaian personal, tetapi juga kontribusi strategis bagi institusi dan perkembangan ilmu pengetahuan,” kata Samsuri dalam siaran pers PresUniv, Senin (27/4/2026).
Samsuri menekankan pentingnya integritas akademik, termasuk menghindari plagiasi, fabrikasi, dan falsifikasi data. Dosen juga dituntut berperan dalam membentuk karakter mahasiswa.
Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Lukman mengatakan, capaian Guru Besar masih terbatas. Dari sekitar 333.000 dosen di Indonesia, hanya sekitar 12.000 atau sekitar 3 persen yang mencapai jabatan tersebut.
“Ini merupakan bentuk pengakuan atas capaian akademik tertinggi dalam dunia pendidikan tinggi,” kata Lukman.
Dalam orasinya, Prof. Anton menyoroti pentingnya transformasi digital bagi UMKM. Ia menilai pelaku usaha perlu meningkatkan literasi digital dan inovasi untuk menghadapi persaingan berbasis teknologi.
“Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada integritas dalam menjalankan bisnis,” kata Anton.
Sementara itu, Prof. Jhanghiz menekankan pentingnya etika dalam pemasaran. Menurutnya, pemasaran tidak hanya berfungsi meningkatkan pendapatan, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial.
“Pemasaran bukan hanya alat ekonomi, tetapi kekuatan sosial yang dapat membentuk nilai dan realitas masyarakat,” kata Jhanghiz.
Di sisi lain, Prof. Erwin menyoroti perkembangan kecerdasan buatan yang pesat. Teknologi ini dinilai mengubah sistem otomasi menjadi lebih adaptif dan berbasis data.
“AI tidak bertanggung jawab atas konsekuensi etis dan tidak memahami konteks sosial. Semua itu tetap menjadi peran manusia,” kata Erwin.
Pendiri President University SD Darmono mengatakan kampus dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat global. Lulusan diharapkan memiliki kombinasi ilmu, keterampilan, dan pengalaman kerja.
Ketua Yayasan President University Budi Susilo Soepandji menyebut keberadaan Guru Besar menjadi indikator penting kualitas akademik. Hingga kini, President University memiliki delapan Guru Besar.
Rektor President University Handa Abidin mengatakan salah satu profesor yang dikukuhkan merupakan alumni angkatan pertama. Hal ini menunjukkan keberlanjutan kualitas pendidikan di kampus tersebut.
“Kami berharap keilmuan yang dimiliki tidak hanya berdampak bagi President University, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia, bahkan dunia,” kata Handa.

3 hours ago
2













































