Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia diprediksi akan meraup kenaikan pendapatan yang fantastis dari sektor minyak dan gas pada April. Ini setelah krisis energi global meledak akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, yang berujung pada penutupan jalur minyak global, Selat Hormuz.
Kenaikan pendapatan ini menjadi bukti nyata adanya keuntungan besar atau windfall bagi Rusia sebagai eksportir minyak mentah terbesar kedua di dunia. Apalagi sanksi pembelian minyak Rusia dihapus AS.
"Penghitungan Reuters merupakan beberapa bukti konkret pertama dari rejeki nomplok bagi Rusia, eksportir minyak terbesar kedua di dunia, dari perang Iran, yang menurut para pedagang minyak telah memicu krisis energi paling serius dalam sejarah baru-baru ini," tulis laporan Reuters tersebut, dikutip Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan data produksi awal dan harga minyak, pajak ekstraksi mineral (MET) atas output minyak Rusia akan meningkat pada bulan April menjadi sekitar 700 miliar rubel atau setara Rp 154,29 triliun (asumsi kurs Rp 220,42/rubel). Angka ini melompat drastis dibandingkan perolehan pada bulan Maret yang sebesar 327 miliar rubel atau Rp 72,07 triliun, sekaligus mencatatkan kenaikan sekitar 10% jika dibandingkan dengan periode April tahun lalu.
Pemerintah Rusia sendiri sebenarnya telah menetapkan target pendapatan dari pajak ekstraksi mineral sebesar 7,9 triliun rubel atau sekitar Rp 1.741 triliun untuk sepanjang tahun 2026. Namun, lonjakan harga minyak Urals yang merupakan tolok ukur perpajakan Rusia justru terbang ke angka rata-rata US$ 77 per barel pada Maret, yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023.
"Itu naik 73% dari US$ 44,59 per barel pada Februari dan berada di atas level US$ 59 yang diasumsikan dalam anggaran negara tahun ini," jelas data Kementerian Ekonomi Rusia.
Kondisi pasar yang kacau balau akibat eskalasi di Timur Tengah membuat permintaan terhadap pasokan energi dari Rusia kini justru meningkat tajam. Kremlin mengonfirmasi bahwa banyak pihak yang kini beralih mencari pasokan ke Moskow di tengah guncangan fondasi pasar minyak dan gas dunia yang dipicu oleh serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu.
"Kremlin mengatakan pada hari Selasa ada sejumlah besar permintaan untuk energi Rusia dari berbagai tempat di tengah krisis energi global yang parah yang mengguncang fondasi pasar minyak dan gas," tulis pernyataan resmi otoritas Rusia.
Kendati demikian, para ekonom di Rusia memperingatkan bahwa keuntungan besar ini masih memiliki batasan dan tantangan yang berat di tahun 2026. Meskipun ada lonjakan harga, Rusia masih harus menghadapi kenyataan defisit anggaran yang cukup lebar pada kuartal pertama tahun ini akibat hambatan ekonomi yang signifikan.
"Rusia mengalami defisit anggaran sebesar 4,58 triliun rubel (Rp 1.009,52 triliun), atau 1,9% dari produk domestik bruto, pada Januari-Maret 2026," lapor Kementerian Keuangan Rusia pada hari Rabu.
Selain faktor ekonomi makro, ancaman fisik terhadap infrastruktur energi Rusia juga menjadi faktor penghambat pendapatan yang bisa menekan angka keuntungan tersebut. Serangan berkelanjutan dari pihak Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia bertujuan untuk melumpuhkan keuangan Moskow serta memberikan ancaman nyata terhadap pemotongan produksi minyak secara nasional.
"Dan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia, dengan tujuan untuk melumpuhkan keuangan Moskow, juga telah berkontribusi pada pendapatan yang lebih rendah dan mengancam pemotongan produksi minyak," tutup laporan tersebut mengenai risiko yang dihadapi Rusia.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]

















































