Pemerintah Mau Genjot BBM dari Tetes Tebu, Begini Respons Petani

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah mendorong pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) mendapat sorotan dari petani tebu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengungkapkan pasokan bahan baku, yakni tetes tebu atau molase, sebenarnya mencukupi untuk mendukung program campuran etanol hingga E10, namun persoalan harga dinilai masih menjadi hambatan utama.

Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen mengatakan, produksi tebu nasional berpotensi menghasilkan bioetanol dalam jumlah besar. Menurutnya, dari produksi tebu sekitar 40 juta ton per tahun, molase atau tetes tebu yang dihasilkan sebenarnya mampu menopang kebutuhan campuran etanol nasional.

"Bioetanol, jadi produksi tebu kita satu tahun kita buletin saja ya kurang lebih 40 juta ton. 40 juta ton itu jadi bioetanol berapa? kali 5%. Ada dua, ketemunya 2 juta kiloliter kalau molase kan kiloliter, 2 juta kiloliter kalau dibuat etanol itu dibagi 4. Dibuat etanol semua menjadi 500 ribu liter etanol itu setara dengan, kalau dipakai etanol semua, setara dengan E10," kata Soemitro saat ditemui di sela-sela acara Rakernas APTRI di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax nasional diperkirakan mencapai sekitar 5 juta kiloliter per tahun sehingga pasokan etanol dari molase tebu domestik dinilai masih mencukupi untuk campuran E10.

"Itu bisa E10," ujarnya.

Meski demikian, Soemitro menilai pengembangan bioetanol belum memberikan keuntungan yang adil bagi petani tebu. Ia mengeluhkan harga molase yang dihitung terlalu rendah dalam skema pengembangan bioetanol domestik.

"Molase kita itu dihargai kurang lebih Rp957 per kg, lha kita ekspor saja laku Rp1.600 per kg kok kita ditekan-tekan," ucap dia.

Soemitro menyebut harga molase di pasar domestik untuk bahan baku etanol sempat ditekan di bawah Rp1.000 per kg. Padahal, kata dia, harga jual ke pasar ekspor masih jauh lebih tinggi.

"Molase kita ini, bahan baku etanol, cuma dihargai di bawah Rp1.000 lah gitu. Nah kita pernah laku itu Rp2.500 sampai dan terakhir itu Rp1.500 per kg. Kita ekspor itu kita Rp 1.500 (per kg)," ujar Soemitro.

Karena itu, ia menilai jika harga molase ditekan terlalu rendah, petani menjadi pihak yang dirugikan.

"Kalau dihargai segitu kan berarti tidak ngehargai keringat kita, rugilah. Jangan begitu," katanya.

Soemitro juga mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menyerap etanol domestik, termasuk kesiapan Pertamina dalam program pencampuran BBM berbasis bioetanol.

"Terus Pertamina mau terima tidak? Tanya jugalah saya tidak tahu. Pertamina yang sudah jual Pertamax Green itu blending-nya di mana nyampurnya?" ujarnya.

Di sisi lain, ia mengaku khawatir rencana pemerintah mendorong bioetanol justru berujung pada meningkatnya impor etanol. Soemitro menyinggung kabar adanya komitmen pembelian etanol dari Amerika Serikat.

"Saya dengarnya memang didorong tapi kalau yang kemarin ada perjanjian apa dengan Amerika harus beli etanol dari sana satu juta kiloliter itu gimana? Untuk apa?" Sebut dia.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|