Pasokan Energi Global Terganggu, IEA: Harga BBM dan Listrik Indonesia Berpotensi Melonjak

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS - Gangguan pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah mulai memunculkan risiko tekanan harga energi di dalam negeri. International Energy Agency mencatat, mayoritas aliran minyak dan gas dunia yang terdampak justru mengarah ke pasar Asia, termasuk Indonesia.

Executive Director International Energy Agency Fatih Birol mengatakan, ketergantungan Asia terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk membuat dampak konflik akan lebih terasa melalui kenaikan harga.

“Asia adalah tujuan utama ekspor energi dari kawasan Teluk. Gangguan di Selat Hormuz akan sangat terasa dampaknya di kawasan ini, terutama melalui kenaikan harga,” ujar Birol, Jumat (27/3/2026).

IEA mencatat sekitar 80 persen minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke Asia. Selain itu, lebih dari 110 miliar meter kubik LNG melintasi jalur tersebut pada 2025, setara hampir 20 persen perdagangan LNG global.

Sebanyak 90 persen LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab juga dikirim ke Asia, mencakup lebih dari seperempat kebutuhan impor kawasan.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga energi global mengalami lonjakan tajam. Harga minyak mentah Brent naik hampir 50 persen, sementara harga gas alam acuan Eropa melonjak lebih dari 70 persen.

Di Asia, tekanan bahkan lebih tinggi. Harga produk seperti diesel dan bahan bakar jet meningkat lebih dari dua kali lipat akibat ketatnya pasokan dari kawasan Teluk.

IEA juga mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi hampir terhenti. Kondisi ini memaksa negara-negara produsen memangkas produksi lebih dari 11 juta barel per hari.

Bagi Indonesia, dampak utama dari situasi ini akan terasa melalui jalur harga. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak mentah dan BBM, kenaikan harga global akan meningkatkan biaya pengadaan energi.

Kondisi ini berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah, terutama jika harga energi domestik ditahan melalui skema subsidi. Di sisi lain, jika tekanan harga berlanjut, penyesuaian harga BBM non-subsidi dan tarif listrik menjadi risiko yang tidak terhindarkan.

Selain itu, kenaikan harga LNG di pasar Asia juga akan meningkatkan biaya energi secara keseluruhan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada biaya pembangkitan listrik.

Kenaikan harga diesel dan bahan bakar jet global juga berpotensi mendorong naiknya biaya logistik dan transportasi di dalam negeri, yang kemudian dapat memicu tekanan inflasi.

“Ketika pasar global terguncang, dampaknya akan dirasakan oleh negara importir melalui harga, bukan hanya pasokan,” kata Birol.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|