Muhammadiyah DIY Luncurkan KPI Sekolah, Gandeng Lembaga Singapura

5 hours ago 3

Muhammadiyah DIY Luncurkan KPI Sekolah, Gandeng Lembaga Singapura

Peluncuran KPI sekolah Muhammadiyah DIY dilakukan dalam Seminar Pendidikan dan Launching Instrumen Penilaian Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah yang digelar di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY mulai menerapkan instrumen penilaian kinerja berbasis Key Performance Indicators (KPI) untuk memperkuat mutu sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bersamaan dengan peluncuran instrumen tersebut, PWM DIY juga menjalin kerja sama internasional dengan lembaga pendidikan asal Singapura guna mendukung transformasi pendidikan yang lebih terukur dan berdaya saing.

Peluncuran KPI sekolah Muhammadiyah DIY dilakukan dalam Seminar Pendidikan dan Launching Instrumen Penilaian Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah yang digelar di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026). Pada agenda yang sama, PWM DIY menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Marshall Cavendish Education (MCE), lembaga pendidikan yang berbasis di Singapura.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PWM DIY Dr. Muh Ikhwan Ahada, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah Didik Suhardi, Ph.D., Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti serta Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen RI Profesor Toni Toharudin. Seminar diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas kepala sekolah SMA, SMK, MA, dan SLB Muhammadiyah se-DIY serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

KPI Jadi Alat Ukur Kemajuan Sekolah

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menilai penerapan KPI menjadi langkah penting untuk memetakan capaian sekolah secara objektif dan terukur. Menurutnya, instrumen tersebut menggabungkan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), kurikulum nasional, serta nilai-nilai khas Muhammadiyah sebagai dasar penilaian.

“Ini sangat baik untuk melihat secara kuantitatif sejauh mana ukuran keberhasilan yang sudah dicapai dengan target yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Meski demikian, Didik mengingatkan agar pengukuran berbasis angka tidak mengabaikan aspek-aspek kualitatif yang selama ini menjadi kekuatan pendidikan Muhammadiyah. Penanaman karakter, kemandirian peserta didik, sikap toleransi, hingga budaya berbagi antarsekolah dinilai tetap harus menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

“Karakter seperti sopan santun, toleransi, dan kemandirian itu agak sulit dikuantitatifkan. Jadi, KPI bukan satu-satunya. Jangan sampai penggunaan KPI menghilangkan unsur penting dari pendidikan Muhammadiyah,” tegasnya.

Pendidikan Tidak Hanya Soal Nilai Akademik

Ketua PWM DIY, Muh Ikhwan Ahada, menegaskan pendidikan Muhammadiyah tidak boleh hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk karakter, memperkuat nilai tauhid, dan menanamkan semangat teologi Al-Ma'un sebagaimana diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan.

Ia menilai keberhasilan lembaga pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik semata. Aspek afektif, perkembangan kepribadian, dan pembentukan karakter peserta didik juga perlu menjadi bagian dari indikator keberhasilan sekolah.

“Mbah Dahlan mengajarkan bahwa ilmu harus berlandaskan tauhid, tidak melahirkan kesombongan, serta mampu memadukan akal, ilmu, dan amal. Karena itu, aspek afeksi juga harus menjadi ukuran keberhasilan pendidikan,” ujarnya.

Melalui penerapan KPI sekolah Muhammadiyah DIY, PWM berharap seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Yogyakarta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas keislaman yang menjadi fondasi utama pendidikan Muhammadiyah.

Lima Indikator Utama Penilaian

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad menjelaskan instrumen KPI dirancang sebagai panduan bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lembaga secara berkelanjutan.

Sistem ini mendorong sekolah memperkuat mutu pembelajaran, pengelolaan aset yang transparan, tata kelola keuangan yang akuntabel, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai organisasi pembelajar.

Menurut Achmad, terdapat lima indikator utama dalam instrumen KPI tersebut. Salah satu pembeda utamanya adalah penempatan aspek ideologi Muhammadiyah sebagai fondasi penilaian.

Indikator tersebut mencakup implementasi nilai amanah, tata kelola berbasis syariat Islam, serta penguatan budaya ibadah yang diwujudkan melalui program-program yang dapat diukur dan dievaluasi secara berkala.

Untuk mendukung proses peningkatan mutu yang bertahap, sekolah Muhammadiyah di DIY akan dikelompokkan dalam lima kategori, yakni Sekolah Bertumbuh, Sekolah Berkembang, Sekolah Unggul Pratama, Sekolah Unggul Madya, Sekolah Unggul Utama.

"Melalui instrumen ini kami ingin memastikan setiap sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY memiliki ukuran kinerja yang jelas dan dapat dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Baseline setiap sekolah memang berbeda, tetapi yang terpenting ada peningkatan yang terukur sehingga sekolah yang masih berkembang,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|