REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Malam menjelang Idul Fitri selalu punya caranya sendiri untuk menyapa manusia, dengan langit yang terasa lebih dekat, udara yang dipenuhi gema takbir, dan jalan-jalan yang berubah menjadi ruang perjumpaan. Di berbagai kota, malam itu bukan sekadar peralihan waktu, melainkan perayaan batin setelah sebulan penuh menahan diri.
Di Medan, cahaya lampu memantul di badan ratusan kendaraan hias yang perlahan bergerak menyusuri jalanan kota. Dari atas podium di Jalan Pulau Pinang, Wali Kota Rico Tri Putra Waas melepas iring-iringan itu dengan lambaian tangan, sebuah isyarat sederhana yang menandai dimulainya syiar dalam bentuk yang lebih membumi.
Sebanyak 320 kendaraan hias mengambil bagian dalam pawai malam takbiran tahun ini. Sebagian besar datang dari 15 kecamatan dan kelurahan, sementara sisanya mewakili wilayah Medan bagian utara. Mereka bergerak melewati ruas-ruas utama kota, Jalan Balai Kota, Putri Hijau, hingga Sisingamangaraja, seolah menenun satu garis panjang yang menghubungkan ruang kota dengan gema keimanan.
Bagi Rico, pawai ini bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah ungkapan syukur kolektif, cara masyarakat merayakan tibanya 1 Syawal dengan sukacita yang tetap berakar pada nilai religius. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga ketertiban, agar kegembiraan tidak kehilangan arah.
Di sepanjang rute, warga berdiri di tepi jalan, sebagian mengabadikan momen, sebagian lain hanya menyimak dengan mata berbinar. Takbir yang dilantunkan dari pengeras suara kendaraan bersahut-sahutan dengan suara dari masjid dan rumah-rumah, menciptakan harmoni yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Sementara itu, di Cibinong, Kabupaten Bogor, malam takbiran menjelma dalam bentuk yang berbeda, namun menyimpan makna yang serupa. Di kawasan Stadion Pakansari, ribuan warga berkumpul membawa obor yang menyala, membentuk barisan cahaya yang bergerak perlahan di tengah gelap malam.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, berada di tengah-tengah kerumunan itu, tidak sekadar sebagai pemimpin, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang merayakan kebersamaan. Pawai obor yang dipimpinnya menjadi simbol yang telah lama hidup dalam tradisi: cahaya kecil yang dibawa bersama-sama untuk menerangi jalan menuju hari kemenangan.
Peserta datang dari berbagai latar belakang, aparatur sipil negara, anggota TNI dan Polri, pedagang, hingga warga biasa. Mereka berbaur tanpa sekat, larut dalam suasana yang hangat dan setara. Bahkan hujan yang sempat turun di sore hari tak mampu meredam antusiasme; justru seakan menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak mudah pudar oleh keadaan.
Rudy melihat momen itu sebagai lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah cerminan nilai toleransi dan persatuan, sebuah ruang di mana perbedaan melebur dalam tujuan yang sama: merayakan kebahagiaan secara bersama.
sumber : Antara

4 hours ago
3














































