Menag Nasaruddin Dorong Ekoteologi, Pendidikan Agama Harus Cinta Alam

2 hours ago 3

Menag Nasaruddin Dorong Ekoteologi, Pendidikan Agama Harus Cinta Alam

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat mengunjungi Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Falah di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (9/6/2026). ANTARA/Ilham Nugraha.

Harianjogja.com, BANDUNG — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan kurikulum pendidikan keagamaan berbasis ekoteologi sebagai upaya membangun kesadaran spiritual yang utuh antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Falah Cicalengka, Bandung, Selasa (9/6/2026), Nasaruddin menegaskan bahwa konsep ekoteologi perlu ditanamkan sejak dini dalam sistem pendidikan keagamaan.

“Ekoteologi itu kesadaran yang harus muncul pada diri setiap orang untuk mencintai sesama manusia, mencintai alam semesta, dan pada saat yang sama manusia dan alam juga mencintai Tuhannya. Ini seperti cinta segitiga,” ujarnya.

Pendidikan Ekoteologi

Ia menjelaskan, pendekatan tersebut penting untuk mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Alam tidak lagi dilihat sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.

Menurutnya, minimnya kesadaran tersebut berpotensi memicu kerusakan lingkungan yang berdampak luas, mulai dari hilangnya keanekaragaman hayati hingga terganggunya ekosistem.

“Kalau tidak ada cinta, alam ini hanya akan dianggap objek. Akhirnya yang terjadi hanya eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya,” katanya.

Nasaruddin mencontohkan, penebangan hutan tanpa kontrol dapat menyebabkan rusaknya ekosistem dan hilangnya berbagai spesies yang berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Dalam konteks pendidikan pesantren, ia juga menyoroti pentingnya kesinambungan pembelajaran dari jenjang Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Ia menilai, materi yang telah dipelajari seharusnya tidak diulang, melainkan dilanjutkan dengan pendalaman yang lebih komprehensif.

“Kalau perlu jangan diulang lagi di Aliyah, tapi dilanjutkan saja supaya bagian yang lebih dalam dari kitab itu bisa tuntas dipahami,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menuntaskan pembelajaran kitab kuning di pesantren, termasuk kitab hadis seperti Shahih Muslim, yang sering kali hanya dipelajari pada bagian awal.

“Bagian awal biasanya dipelajari, tetapi bagian akhirnya tidak sampai tuntas. Padahal di bagian akhir itu ada dimensi yang sangat spiritual,” katanya.

Melalui penguatan kurikulum berbasis ekoteologi dan kesinambungan pembelajaran di pesantren, pemerintah berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|