Membangun Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global

13 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi masih terus dilakukan, salah satunya dengan merilis berbagai kebijakan dan stimulus agar daya beli masyarakat tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Seperti diketahui, ketidakpastian ekonomi global terus memburuk akibat konflik geopolitik, mulai dari perang dagang antara AS-China hingga di Ukraina dan juga Iran. Hal tersebut secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Beruntung Indonesia memiliki ketahanan, dan juga didukung oleh pasar domestik yang kuat, sehingga hingga kuartal I-2026 ekonomi Indonesia masih tetap tumbuh 5,61%.

Bahkan, Direktur Utama PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (SMBC Indonesia) Henoch Munandar mengaku optimistis dengan daya tahan dan stabilitas ekonomi terjaga, Indonesia ke depan bisa menjadi pusat pertumbuhan di wilayah kawasan.

"Kita menyaksikan dunia bergerak dinamis, rantai pasok global, teknologi, transisi energi, arus investasi internasional, sedang membentuk new normal, dengan era volatilitas, gejolak, ketidakpastian, kerumitan, dan semua dalam situasi ambigu atau ketidakjelasan. Di tengah ketidakjelasan itu, kita berharap Indonesia memiliki daya tahan, dan optimisme kuat, stabilitas ekonomi terjaga, karena besarnya pasar domestik," ujar Henoch saat membuka Seminar SMBC Indonesia Economic Forum 2026, dikutip Kamis (21/5/2026).

Diskusi dalam forum ini menunjukkan bahwa di tengah fragmentasi global dan meningkatnya volatilitas, stabilitas domestik, konsistensi kebijakan, dan kepercayaan investor akan menjadi faktor pembeda utama daya saing suatu negara.

SMBC Indonesia memandang ketahanan ekonomi nasional bukan hanya sebagai kemampuan bertahan menghadapi tekanan global, tetapi juga sebagai fondasi untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru di kawasan. Sejalan dengan arus modal global yang semakin selektif, kepastian regulasi, kualitas institusi, dan iklim investasi yang terjaga akan menjadi elemen penting dalam menarik modal jangka panjang.

Optimisme itu bukan tanpa alasan, mengingat Indonesia bisa memanfaatkan kondisi dinamika global lewat daya saing yang kuat dengan memperluas peluang usaha dan menciptakan ekonomi berkelanjutan.

"Kami melihat pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi, sekaligus momentum tetap terjaga. Ini butuh kolaborasi erat, pemerintah, publik, swasta. SMBC Indonesia Economic Forum kami adakan untuk jadi ruang dialog yang konstruktif antar pemangku kepentingan, sekaligus merespons dinamika global, memperluas wawasan, dan memperkuat optimisme serta memberikan wawasan untuk investasi ke depan," terangnya.

Tidak tinggal diam, pemerintah juga memiliki strategi agar pertumbuhan ekonomi tetap kuat di tengah gejolak ekonomi global. Salah satunya dengan menjaga kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap sehat dengan defisit yang terkendali.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Herman Saheruddin mengatakan Kemenkeu tentu tetap menjaga APBN agar bisa shock absorber sehingga masyarakat Indonesia baik dari sisi konsumsi dapat menjalankan aktivitas dengan baik.

"Jadi hal utama yang pertama konsumsi rumah tangga domestik, kedua investasi domestik, dan ketiga konsumsi pemerintah. Semua ini faktor domestik dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa. Ini menunjukkan betapa besar potensi domestik kita kalau diarahkan dengan benar," terangnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, melalui fungsi fiskal yang dimiliki di APBN, pemerintah kini lebih disiplin menerapkan anggaran dengan tepat waktu. Artinya pemerintah menjaga pengeluaran dengan hati-hati dan waktu yang tepat. Langkah ini sangat penting dilakukan, karena dinilai bisa menciptakan multiplier effect baik dari konsumsi maupun investasi.

Fundamental Indonesia Sangat Kuat

Head of Economics, Portfolio Alignment, and Sustainability Danantara Investment Management, Masyita Crystallin, membeberkan, Indonesia saat ini memiliki nilai ekonomi hampir menembus 1,4 triliun dolar AS. Angka jumbo ini menjadikan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat di antara negara emerging market di luar Tiongkok.

Dengan kondisi ini, tentunya Indonesia punya potensi besar dalam mendorong perekonomian ke depan tetap kuat dan terjaga.

"Ini bukan harapan. Ini kenyataan bahwa kita memiliki size ekonomi yang besar. Namun pertanyaan berikutnya, apakah size itu bisa berubah menjadi produktivitas yang akhirnya (berujung) kepada kemajuan ekonomi?," ujar Masyita.

Meski begitu, Ia menilai bahwa peta kekuatan ekonomi Indonesia selama ini tak hanya disokong oleh sumber daya alam, melainkan oleh stabilitas pertumbuhan ekonomi domestik. Selain sumber daya alam, Masyita menekankan akan pentingnya pembangunan sumber daya manusia atau human capital.

Menurutnya, Indonesia diberikan privilege berupa bonus demografi lantaran jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding kelompok usia nonproduktif. Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut tak akan berlangsung selamanya. Oleh karena itu, penciptaan lapangan kerja dan akumulasi modal menjadi kunci utama agar Indonesia bisa memanfaatkan bonus demografi lebih maksimal dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pentingnya Dukungan Swasta dalam Memperkuat Ekonomi Indonesia

Ekonom Senior, Raden Pardede mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini tidak bisa bergantung pada APBN dan BUMN semata, tetapi bisa bergantung pada swasta karena memiliki mesin yang lebih besar.

Oleh sebab itu Ia mendorong agar pemerintah ke depan bisa berfungsi sebagai katalis untuk mendukung swasta bekerja dalam mendorong perekonomian Indonesia.Kondisi saat ini pun memungkinkan karena anggaran pemerintah terbatas, swasta sehat, sektor perbankan dan keuangan juga sehat.

Raden menegaskan kondisi ini berbeda dengan kondisi saat krisis keuangan 1998 ketika sektor swasta hancur lebur.

"Sekarang sebetulnya cukup kuat, pemerintah oke, tapi mereka terbatas. Jadi saran saya pemerintah jadi katalis. Untuk jadi katalis adalah deregulasi, address ease doing business, (mendorong) produktivitas, berfungsi lah pemerintah sebagai katalis," paparnya.

Strategi Hadapi Kondisi Geopolitik Global

Distinguished Fellow at the Asia Research Institute, National University of Singapore, Kishore Mahbubani mengungkapkan panasnya kondisi geopolitik bisa berpengaruh besar pada negara-negara di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.

Sebagai salah satu negara yang besar, Indonesia dinilainya harus mengadopsi langkah yang tepat untuk menghadapi dunia yang sulit ini.

"Indonesia bisa mengadopsi pendekatan ABC (ASEAN, Boring, Capital) dalam menghadapi situasi global saat ini," ujarnya

Kishore kemudian menjelaskan yang dimaksud strategi ABC, pertama adalah ASEAN. Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia dinilainya harus lebih memanfaatkan dan mengandalkan apa yang sudah terjalin dengan negara tetangga.

"Lalu untuk B, saya tahu ini adalah kata-kata yang berbahaya, B adalah Boring. Di tengah dunia yang terus berubah, jika kita bisa konsisten, terprediksi, dan konsisten maka kita bisa menghadapinya," ungkap Kishore.

Strategi berikutnya adalah Capital. Dengan kekuatan ekonomi ASEAN dan konsistensi yang nyata, maka capital atau modal akan datang dengan sendirinya.

"Capital (modal) tidak suka dengan kejutan-kejutan atau perubahan terlalu banyak, karena mereka (investor) jadi kurang yakin," ujar Kishore.

Permasalahan di dunia yang banyak berubah saat ini adalah arus modal yang keluar di banyak negara karena ketidakpastian. Kishore pun menegaskan "Arus modal (capital) datang ke tempat yang paling membosankan".

Saat ini menurutnya kondisi ASEAN secara keseluruhan masih cukup stabil dengan pasar yang terus berkembang. Kawasan ini menurutnya juga, beruntung karena berdekatan dengan dua kekuatan ekonomi besar dunia, yakni China dan India.

"Jadi kita beruntung ASEAN terlibat dalam segitiga pertumbuhan bersama China dan India. Jika kita bisa memperkuat pertumbuhan segitiga ini maka ekonomi kawasan bisa lebih berkembang, terutama dengan hubungan baik bersama mitra lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru," jelasnya.

Untuk diketahui, SMBC Indonesia sendiri telah sukses menggelar forum diskusi untuk mendengar perspektif strategis terkait arah kebijakan pemerintah dan juga potensi investasi serta program hilirisasi hingga politik di tanah Air.

Dengan mengangkat tema "Resilience in a Shifting Global Landscape", forum ini menghadirkan sejumlah aktor penting di sektor ekonomi. Lewat berbagai diskusi, diharapkan pemangku kepentingan bisa mengambil sikap yang tepat dalam merespon kondisi dinamika global.

Hadir pula beberapa narasumber kompeten lainnya di SMBC Indonesia Economic Forum 2026, seperti Executive Director Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi, dan Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Wana.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|