Kuliah tak Sekadar Dapat Ijazah, Mesti Punya Skill Digital yang Dipakai di Dunia Kerja

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Masih percaya kalau IPK tinggi otomatis bikin HRD jatuh cinta? Maaf ya, itu mitos lama. Dunia kerja hari ini nggak lagi cuma nanya, “IPK kamu berapa?” tapi lebih ke, “Kamu bisa apa?”

Banyak anak muda masih terjebak mindset lama kuliah, lulus, wisuda, selesai. Padahal realitasnya, setelah toga dilepas, pertanyaan sebenarnya baru dimulai. Punya skill apa? Pernah pegang project apa? Bisa kerja tim? Ngerti tools digital? Atau cuma jago teori dan screenshot nilai A?

Inilah kenapa kuliah hari ini nggak boleh cuma soal ijazah. Ijazah itu penting, iya. Namun, tanpa skill digital yang relevan, nilainya cuma jadi pelengkap map lamaran. Sekarang lihat saja kebutuhan industri. Hampir semua sektor sudah terdigitalisasi.

UMKM butuh digital marketing. Perusahaan butuh data analyst. Instansi butuh sistem informasi yang rapi. Konten kreator tumbuh di mana-mana. Bahkan bisnis kecil pun butuh orang yang ngerti spreadsheet, desain, editing, sampai manajemen media sosial.

Masalahnya, banyak mahasiswa santai di semester awal dengan pikiran, “Nanti juga belajar” lalu semester akhir panik karena CV kosong. Kuliah yang relevan itu harusnya bikin mahasiswa akrab dengan project nyata. Bukan cuma presentasi di kelas, tapi bikin produk.

Bukan cuma diskusi teori, tapi praktik pakai tools yang memang dipakai di dunia kerja. Skill seperti analisis data, pembuatan konten digital, pengelolaan sistem informasi, sampai kemampuan komunikasi profesional itu bukan bonus. Itu kebutuhan.

Di sinilah kampus harus berani berubah. Kampus nggak bisa lagi cuma jadi tempat datang, duduk, dengar, lalu pulang. Kampus harus jadi tempat latihan sebelum benar-benar masuk ke arena.

Semangat itu mulai terasa lewat pendekatan pembelajaran berbasis praktik yang diterapkan di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak.

UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang telah terakreditasi Unggul, mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami konsep, tapi juga mengerjakan proyek yang relevan dengan kebutuhan industri digital.

Mahasiswa didorong untuk terlibat dalam kegiatan organisasi, pelatihan, sertifikasi, hingga pengembangan ide bisnis. Karena dunia kerja nggak cuma butuh orang pintar, tapi orang yang siap. Siap kerja, siap adaptasi, siap belajar hal baru.

Realitasnya sederhana, perusahaan hari ini lebih tertarik pada lulusan yang bisa menunjukkan portofolio daripada sekadar transkrip nilai. Punya pengalaman mengelola media sosial? Pernah bikin sistem sederhana? Terlibat dalam riset terapan? Itu jauh lebih “berbicara”.

Generasi muda sering bilang ingin sukses cepat. Tapi sukses itu bukan soal cepat, melainkan soal siap. Dan kesiapan itu dibangun selama kuliah.

Kalau masih menganggap kuliah cuma soal datang, absen, dan lulus tepat waktu, mungkin memang saatnya evaluasi. Karena di luar sana, persaingan tidak menunggu kamu siap. Ia berjalan terus.

Kuliah bukan cuma tentang mendapatkan ijazah untuk dipajang di dinding rumah. Kuliah adalah proses membentuk skill digital, pola pikir adaptif, dan mental profesional yang benar-benar dipakai di dunia kerja.

Jadi, pertanyaannya sederhana kamu mau lulus cuma bawa ijazah atau bawa kemampuan yang bikin kamu dicari? 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|