Sejumlah penumpang berdiri di garis antrean penumpang saat menunggu KRL (ilustrasi). Setelah tabrakan maut KRL, Endah lebih memilih menaiki gerbong campur untuk sementara.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) menyisakan trauma mendalam. Bukan hanya bagi korban, namun juga para perempuan yang selalu menggunakan KRL untuk bekerja dan beraktivitas.
Endah Anggraeni (40 tahun), yang bekerja sebagai Marketing Engineer di PT Mechtron Mastevi Indonesia, menjadi salah satu yang merasakan dampak psikologis dari insiden itu. Tinggal di kawasan Mangga Besar, ia sehari-sehari mengandalkan KRL untuk menemui klien di Tangerang, Parung Panjang hingga Rangkas Bitung.
"Jujur iya cemas banget, apalagi aku emang sehari-hari kalau kerja pakai KRL. Biar cepet, nggak macet," kara Endah kepada Republika, Selasa (28/4/2026).
Selama ini, Endah mengaku selalu memilih gerbong kereta khusus perempuan saat menaiki KRL. Selain karena kenyamanan, Endah mengaku merasa lebih aman dari ancaman pelecehan seksual yang lebih mungkin terjadi di gerbong campur.
Namun setelah insiden keelakaan semalam, Endah mengaku takut dan khawatir duduk di gerbong khusus perempuan. Karenanya, hari ini dia memilih untuk menaiki gerbong campur saat hendak berangkat kerja.
"Gara-gara kejadian semalem aku nggak mau dulu naik di gerbong perempuan, jadi mungkin ya untuk sementara bakal naik gerbong yang campur aja. Meski memang harus hati-hati karena mungkin ada risiko pelecehan," kata Endah.

2 hours ago
2















































