Ketika Menjadi Perempuan Seolah tidak Pernah Cukup

1 hour ago 2

Image Hayatun Nufus

Humaniora | 2026-09-16 14:18:29

Ilustrasi

“Kamu harus jadi perempuan yang baik.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dipermasalahkan. Sejak kecil, banyak perempuan mendengarnya dari orang tua, guru, keluarga, atau lingkungan sekitar. Menjadi baik seolah merupakan nasihat yang tidak memiliki sisi buruk. Namun, pernahkah kita bertanya, seperti apa sebenarnya perempuan yang dianggap “baik” itu?

Ia harus sopan, tetapi tetap percaya diri. Harus cantik, tetapi jangan terlalu sibuk memperhatikan penampilan. Harus pintar, tetapi jangan terlalu menonjol. Harus mandiri, tetapi tetap membutuhkan orang lain. Harus memiliki karier, tetapi jangan sampai keluarga terabaikan. Harus menjadi ibu yang baik, pasangan yang memahami, anak yang berbakti, pekerja yang bertanggung jawab, sekaligus tetap mampu merawat dirinya sendiri. Daftarnya seolah tidak pernah selesai.

Tanpa disadari, di balik banyak nasihat yang terdengar biasa itu terdapat satu pesan yang terus berulang: jadilah sempurna. Tidak ada yang benar-benar mengatakan kalimat tersebut secara langsung. Tetapi perempuan dapat merasakannya dari berbagai arah, dari komentar tentang tubuh, pertanyaan tentang pernikahan, penilaian tentang pekerjaan, cara mengasuh anak, hingga perbandingan dengan perempuan lain. Bahkan dari kalimat sederhana seperti, “Masa begitu saja tidak bisa?” Pada awalnya mungkin tidak terasa menyakitkan. Namun, sesuatu yang terus diulang dapat berubah menjadi keyakinan.

Perempuan kemudian mulai melihat dirinya melalui ukuran yang dibuat orang lain. Apakah aku sudah cukup cantik? Apakah aku cukup pintar? Apakah pekerjaanku sudah cukup baik? Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik? Apakah aku sudah menjadi pasangan yang baik? Apakah aku sudah cukup berhasil? Dan yang paling melelahkan, apakah aku sudah cukup menjadi perempuan?

Masalah terbesar dari standar sosial bukan hanya ketika orang lain menghakimi perempuan. Masalahnya muncul ketika perempuan mulai menghakimi dirinya sendiri menggunakan standar tersebut. Sejak kecil, anak perempuan sering belajar bahwa ada cara tertentu untuk menjadi “perempuan yang baik”. Anak yang pendiam dianggap lebih sopan. Yang tidak banyak membantah dianggap lebih mudah diatur. Yang menjaga penampilan dianggap lebih pantas. Sementara anak perempuan yang banyak bertanya, kritis, atau tegas kadang justru dianggap terlalu keras.

“Jangan galak-galak, kamu kan perempuan.” Kalimat itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan. Tetapi bagi seorang anak perempuan, ia bisa menjadi pesan yang dibawa bertahun-tahun. Ia belajar bahwa menjadi terlalu tegas bisa membuat orang tidak nyaman. Menjadi terlalu pintar bisa membuat orang lain merasa tersaingi. Menjadi terlalu mandiri bisa dianggap tidak membutuhkan pasangan. Memiliki ambisi terlalu besar bisa dianggap lupa diri. Akhirnya, perempuan belajar bukan hanya untuk menjadi dirinya sendiri, tetapi juga belajar agar tidak terlihat “terlalu”.

Terlalu pintar. Terlalu berani. Terlalu mandiri. Terlalu ambisius. Terlalu bebas. Padahal, siapa yang menentukan batas “terlalu” tersebut?

Barangkali salah satu hal paling melelahkan menjadi perempuan adalah kenyataan bahwa pilihan hidup sering kali terasa seperti ruang yang penuh penilaian. Ketika seorang perempuan mengejar pendidikan tinggi, pertanyaan berikutnya bisa saja, “Kapan menikah?” Ketika ia menikah, pertanyaan bergeser menjadi, “Kapan punya anak?” Ketika memiliki anak, cara mengasuhnya ikut diperhatikan. Jika bekerja, muncul pertanyaan tentang keluarga. Jika memilih menjadi ibu rumah tangga, muncul pertanyaan tentang karier. Jika memilih menunda pernikahan, dianggap terlalu pemilih. Jika menikah muda, dianggap belum siap menjalani kehidupan.

Seolah-olah tidak ada pilihan yang benar-benar bebas dari komentar. Yang menarik, perempuan sering kali berada dalam situasi ketika dua pilihan yang berlawanan sama-sama dapat dipersoalkan. Mandiri dianggap baik, tetapi terlalu mandiri dianggap tidak membutuhkan pasangan. Berani bersuara dianggap baik, tetapi terlalu vokal dianggap keras. Berkarier dianggap baik, tetapi terlalu sibuk bekerja dianggap mengabaikan keluarga. Fokus pada keluarga dianggap mulia, tetapi tidak memiliki pekerjaan dapat dianggap kurang produktif.

Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Sebenarnya, apakah perempuan sedang diberi ruang untuk memilih, atau hanya diberi pilihan selama pilihannya sesuai dengan harapan orang lain?

Kehidupan perempuan tidak pernah hanya memiliki satu bentuk. Ada perempuan yang ingin membangun karier. Ada yang memilih mengurus keluarga. Ada yang ingin menikah, ada yang belum ingin menikah. Ada yang ingin memiliki anak, ada pula yang memiliki pertimbangan berbeda. Semua kehidupan tersebut memiliki cerita, konteks, tantangan, dan pertimbangannya masing-masing.

Karena itu, rasanya tidak adil jika satu pilihan dijadikan ukuran untuk menilai pilihan lainnya. Perempuan tidak seharusnya dipaksa mengikuti satu cetak biru kehidupan hanya agar dianggap berhasil. Sebab hidup bukan ujian dengan satu jawaban yang benar. Dan menjadi perempuan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling sempurna.

Sayangnya, masyarakat sering kali menciptakan perlombaan tersebut tanpa garis akhir. Perempuan dibandingkan berdasarkan wajah, tubuh, pendidikan, pekerjaan, pernikahan, anak, rumah, bahkan cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika satu standar berhasil dicapai, standar lainnya menunggu. Tidak ada titik ketika dunia benar-benar berkata, “Sudah. Kamu cukup.”

Maka tidak mengherankan jika banyak perempuan akhirnya merasa selalu kurang. Bukan karena mereka tidak melakukan cukup banyak, melainkan karena ukuran “cukup” terus bergerak menjauh. Hari ini seseorang mungkin dianggap berhasil karena memiliki pendidikan tinggi. Besok, pencapaian itu dianggap belum lengkap karena belum menikah. Setelah menikah, kehidupannya kembali dinilai berdasarkan kehadiran anak. Setelah memiliki anak, penilaian bergeser lagi kepada cara ia membesarkan anak dan membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.

Lalu, kapan perempuan boleh berhenti membuktikan dirinya?

Kita mungkin terlalu sering bertanya, “Mengapa perempuan ini belum menjadi seperti yang seharusnya?” Mengapa belum menikah? Mengapa belum punya anak? Mengapa tidak bekerja? Mengapa bekerja terlalu keras? Mengapa tidak seperti perempuan lain? Pertanyaan semacam itu tampak sederhana. Namun, jika terus-menerus diberikan, ia dapat membuat seseorang merasa bahwa hidupnya selalu berada dalam posisi yang harus dipertanggungjawabkan kepada orang lain.

Padahal, perempuan juga manusia. Ia boleh lelah. Ia boleh gagal. Ia boleh berubah pikiran. Ia boleh memiliki ambisi. Ia boleh takut. Ia boleh berkata tidak. Ia boleh memilih jalan yang tidak dipahami semua orang. Dan yang tidak kalah penting, ia boleh menjadi dirinya sendiri tanpa harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari dunia.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menuntut perempuan untuk menjadi semuanya sekaligus. Tidak semua perempuan harus memiliki kehidupan yang sama. Tidak semua perempuan harus memenuhi standar yang sama. Tidak semua perempuan harus membuktikan dirinya dengan cara yang sama.

Sebab nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak ekspektasi yang berhasil ia penuhi. Ia tidak menjadi lebih berharga hanya karena berhasil menjadi cantik, pintar, sukses, menikah, memiliki anak, berkarier, atau memenuhi seluruh peran yang dilekatkan kepadanya. Dan ia tidak menjadi kurang berharga ketika salah satu dari semua itu tidak dimilikinya.

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang bagaimana perempuan menjadi sempurna. Sebab kesempurnaan itu sendiri barangkali hanyalah standar yang terus diwariskan tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Yang perlu kita tanyakan justru lebih sederhana: mengapa perempuan harus sempurna untuk dianggap berharga?

Barangkali sudah waktunya kita mengganti pertanyaan “Apa yang kurang dari perempuan ini?” menjadi “Mengapa kita selalu merasa perempuan harus lebih dari dirinya sendiri?” Karena perempuan tidak dilahirkan untuk memenuhi seluruh ekspektasi dunia. Perempuan adalah manusia. Ia memiliki pilihan, keterbatasan, harapan, ketakutan, dan jalan hidupnya sendiri. Dan pada akhirnya, ia berhak menjalani hidup tersebut tanpa harus terus-menerus meminta izin kepada dunia untuk merasa cukup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|