Kekeringan Akut, Warga Swiss Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

20 hours ago 9

Newswire

Newswire Minggu, 16 Agustus 2026 06:57 WIB

Kekeringan Akut, Warga Swiss Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

Ilustrasi Swiss. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu)\r\n

Harianjogja.com, MOSKOW— Kekeringan dan panas ekstrem membuat sejumlah pemerintah daerah di Swiss memberlakukan pembatasan penggunaan air. Warga di sejumlah wilayah dilarang mencuci mobil, menyiram taman, mengisi kolam renang, hingga mengambil air dari sungai untuk kebutuhan pertanian.

Pekan lalu, dinas cuaca nasional MeteoSuisse menetapkan peringatan kekeringan tertinggi, yakni tingkat empat, untuk seluruh wilayah Swiss. Kondisi tersebut mendorong hampir seluruh 26 wilayah kanton di negara itu menerapkan pembatasan penggunaan air.

Petani Swiss Ikut Terdampak

Menurut laporan harian Blick, Jumat, otoritas Kanton Aargau yang berbatasan dengan Jerman melarang masyarakat menyiram taman, mengisi kolam renang, dan mencuci kendaraan.

Larangan juga diberlakukan terhadap petani yang hendak mengambil air dari sungai. Kebijakan tersebut menimbulkan persoalan serius bagi petani yang mengeluhkan situasi kritis akibat keterbatasan air.

Langkah serupa turut diterapkan pemerintah Kanton Basel. Sementara itu, Kanton Solothurn melarang petani mengambil air dari sungai "hingga waktu yang belum ditentukan," kata Blick.

Kekeringan panjang juga terlihat dari kondisi sejumlah sumber air. Tingkat air di Danau Zurich menurun secara signifikan, sementara Danau Constance dan Sungai Rhein Hilir turut terdampak.

Layanan Pelayaran dan Pasokan Air Terganggu

Penurunan debit air turut memengaruhi aktivitas transportasi. Sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa membatalkan layanan di sejumlah rute, menurut laporan Blick.

Dampak kekeringan bahkan dirasakan masyarakat di wilayah pegunungan Swiss tengah. Warga di sekitar Gunung Pilatus, dekat Kota Lucerne, terpaksa mengandalkan pasokan air minum yang dikirim menggunakan mobil tanker atau traktor setelah sumber mata air setempat mengering.

Situasi tersebut menunjukkan tekanan terhadap sumber daya air tidak hanya berdampak pada aktivitas rumah tangga, tetapi juga pertanian, transportasi, dan kebutuhan dasar masyarakat.

Eropa Hadapi Panas dan Kekeringan Ekstrem

Kondisi Swiss terjadi ketika Eropa sedang menghadapi periode terpanasnya dalam beberapa tahun terakhir. Spanyol, Portugal, Prancis, Italia, dan Yunani termasuk negara yang terdampak paling parah.

Pada 16 Juli, Presiden Emmanuel Macron mengatakan Prancis menghadapi jumlah kebakaran hutan tertinggi sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Secara umum, gelombang panas ekstrem dan kelangkaan air memberikan tekanan yang semakin besar terhadap banyak negara Eropa. Kondisi tersebut mengancam pertanian, sumber daya air, jalur air, dan produksi energi.

Menurut Reuters, Eropa dan sebagian Afrika menghadapi kondisi kekeringan parah di tengah kenaikan suhu.

Pada 11 Agustus, sekitar 204 juta orang di Eropa Barat diperkirakan akan mengalami suhu lebih dari 5 derajat Celcius lebih tinggi dari biasanya.

Kelangkaan air semakin terlihat di berbagai daerah. Daerah aliran Sungai Po di Italia dan sejumlah danau besar berada pada tingkat yang sangat rendah dan mengkhawatirkan.

Di Inggris, lebih dari 45 juta orang terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 27 juta orang tinggal di daerah yang memberlakukan pembatasan penggunaan air.

Kekeringan Tekan Pertanian hingga Produksi Energi

Dampak kekeringan di Eropa juga meluas ke sektor-sektor yang bergantung pada ketersediaan air. Pertanian menghadapi tekanan akibat kekurangan air irigasi, sementara transportasi di sungai-sungai besar seperti Rhine dan Danube ikut terpengaruh.

Sejumlah fasilitas pembangkit listrik, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, juga menghadapi tantangan terkait sumber daya air.

Reuters melaporkan tanaman seperti jagung dan bunga matahari mengalami kerusakan di beberapa daerah. Pada saat yang sama, risiko kebakaran hutan di Eropa mendekati tingkat tertinggi dalam sejarah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|