Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke jantung pertahanan Iran dengan menghantam sekitar 400 target rezim dalam dua hari terakhir. Pada Rabu (2/4/2026), dua gelombang serangan udara dilaporkan mengguncang wilayah utara, timur, dan pusat kota Teheran sesaat sebelum dimulainya festival tahunan Paskah Yahudi.
Operasi militer ini dibarengi dengan serangan angkatan laut Israel di Beirut yang menewaskan tujuh orang, termasuk Youssef Hashem. Hashem merupakan komandan garis depan selatan Hizbullah sekaligus pemimpin paling senior dari kelompok proksi Iran yang tewas sejak perang pecah sebulan lalu.
"Kematian Hashem yang memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun akan menjadi pukulan signifikan bagi upaya Hizbullah untuk melawan rencana Israel menduduki Lebanon selatan dalam kampanye darat yang meningkat pesat," tulis pernyataan resmi militer Israel.
Pihak Hizbullah telah mengakui kematian tersebut dalam sebuah pernyataan resmi. Kelompok ini memberikan penghormatan terakhir bagi sang komandan yang dianggap memiliki peran krusial dalam struktur militer mereka.
"Hashem adalah mercusuar Perlawanan Islam dan merupakan komandan tingkat satu," sebut perwakilan pejabat Hizbullah.
Eskalasi di lapangan terus memanas setelah Iran membalas dengan menembakkan sekitar 10 rudal ke arah Israel tengah. Serangan ini terjadi secara terkoordinasi dengan tembakan roket dari kelompok Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, seorang anak perempuan berusia 11 tahun dilaporkan dalam kondisi kritis akibat terkena serpihan rudal.
"Sangat mungkin bahwa Iran dan Hizbullah akan terus menembak ke arah wilayah Israel dalam upaya untuk mencelakai warga sipil selama hari libur ini," ujar Juru Bicara IDF, Brigadir Jenderal Effie Defrin.
Data dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah memperkirakan setidaknya 1.900 orang tewas dan 20.000 terluka di Iran sejak awal perang. Konflik ini juga telah menutup jalur logistik vital di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga US$ 1 per barel kini setara Rp 17.000.
Klaim Iran Mulai Menyerah
Di tengah aksi saling serang tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa kepemimpinan Iran sebenarnya tengah mencari jalan keluar melalui gencatan senjata. Melalui media sosialnya, Trump menyebut Presiden Iran "baru saja meminta" perdamaian dan menjanjikan penarikan pasukan AS dalam waktu dekat.
"Saya menghadapi peluang yang sangat bagus bahwa kita akan membuat kesepakatan karena mereka tidak ingin dibombardir lagi. Saya tidak butuh perubahan rezim, tetapi kita mendapatkannya karena jatuhnya korban perang," kata Trump kepada Reuters.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak merasa khawatir dengan cadangan uranium yang sangat diperkaya (HEU) milik Iran yang disimpan di bawah tanah. Ia menyatakan bahwa teknologi satelit Amerika sudah cukup untuk mengawasi aktivitas nuklir tersebut tanpa perlu kehadiran militer secara permanen.
"Itu berada sangat jauh di bawah tanah, saya tidak peduli tentang itu. Kita akan selalu mengawasinya melalui satelit. Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir karena mereka tidak mampu melakukannya sekarang, dan kemudian saya akan pergi, dan saya akan membawa semua orang bersamaku, dan jika perlu kita akan kembali untuk melakukan serangan titik (spot hits)," tegas Trump.
Namun, klaim sepihak Trump ini langsung dibantah keras oleh pemerintah Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan tidak pernah ada permintaan gencatan senjata dari Teheran dan menyebut narasi yang dibangun Presiden AS tersebut sebagai kebohongan yang tidak berdasar.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, justru mempertanyakan motif AS dalam keterlibatannya di konflik ini melalui sebuah surat terbuka. Ia menegaskan bahwa selama ini Iran tidak pernah memulai agresi militer terhadap tetangganya meskipun memiliki keunggulan militer.
"Tepatnya kepentingan rakyat Amerika mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini? Apakah ada ancaman objektif dari Iran untuk membenarkan perilaku seperti itu? Warga Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap negara lain, termasuk rakyat Amerika," tulis Pezeshkian.
Ketegangan makin memuncak setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan keras pertamanya sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas di awal perang. Khamenei junior menegaskan perlawanan total terhadap aliansi AS dan Israel.
"Musuh Amerika dan Zionis yang kejam dan keji tidak mengenal batas kemanusiaan, moral, atau vital," tegas Khamenei.
(tps/luc)
Addsource on Google


















































