Jumali Sabtu, 08 Agustus 2026 07:57 WIB

Ilustrasi server internet - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Biaya berlangganan internet tetap di berbagai negara menunjukkan disparitas yang sangat mencolok. Berdasarkan laporan terbaru Broadband Genie yang dirilis pada Juni 2026, selisih biaya internet di berbagai negara mencapai lebih dari 140 kali lipat, dengan negara dan wilayah kepulauan mendominasi daftar internet termahal di dunia.
Perbedaan harga yang ekstrem ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis, biaya pembangunan infrastruktur, hingga tingkat persaingan antarpenyedia layanan internet di masing-masing negara.
Wallis dan Futuna: Internet Termahal di Dunia 2026
Dalam pemeringkatan tersebut, Wallis dan Futuna dinobatkan sebagai wilayah dengan internet termahal di dunia pada 2026. Rata-rata biaya berlangganan broadband di wilayah yang terletak di Samudra Pasifik itu mencapai US$373,88 atau sekitar Rp6,73 juta per bulan.
Wilayah dengan internet termahal di dunia umumnya memiliki karakteristik yang sama, yakni berada di kawasan terpencil atau merupakan negara kepulauan. Biaya pembangunan dan pemeliharaan jaringan di wilayah tersebut relatif tinggi, sementara jumlah pelanggan tidak sebanyak negara dengan populasi besar.
Berikut daftar 15 negara dan wilayah dengan biaya internet tetap paling mahal di dunia:
Dari daftar yang dirangkum Visual Capitalist tersebut, 18 dari 25 pasar broadband termahal di dunia merupakan negara atau teritori kepulauan. Hal ini menunjukkan bahwa letak geografis masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan biaya akses internet.
Timor Leste Satu-satunya dari ASEAN
Di kawasan Asia Tenggara, Timor Leste menjadi satu-satunya negara yang masuk daftar internet termahal di dunia. Rata-rata biaya internet tetap di negara tersebut mencapai US$124,50 atau sekitar Rp2,24 juta per bulan. Angka itu menempatkan Timor Leste di peringkat ke-14 dunia.
Di sisi lain, Vietnam justru menjadi salah satu negara dengan biaya internet broadband paling murah. Menariknya lagi, negara tersebut juga termasuk dalam kelompok dengan kecepatan internet tetap tercepat di dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tarif internet yang rendah tidak selalu identik dengan kualitas jaringan yang buruk. Sebaliknya, persaingan yang sehat dan investasi infrastruktur yang tepat dapat menciptakan layanan internet yang cepat sekaligus terjangkau bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































