IHSG Dibuka Menguat, Pasar Sambut Redanya Konflik Iran-Israel

3 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (9/6/2026) di zona positif. Penguatan pasar saham domestik terjadi seiring membaiknya sentimen global setelah meningkatnya harapan tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel yang selama beberapa pekan terakhir memicu ketidakpastian di pasar keuangan dunia.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 2,55 poin atau 0,05% ke level 5.344,69. Sementara kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 turut menguat 1,22 poin atau 0,23% ke posisi 528,30.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai kondisi pasar saat ini membuat strategi investasi berbasis dividen menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan investor.

"Kiwoom Research sarankan mempertimbangkan dividend investing sebagai salah satu strategi defensif yang menarik, apalagi ketika momentum pasar sedang sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek, investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Harapan Perdamaian Timur Tengah Angkat Sentimen Pasar

Pergerakan positif pasar saham dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mendorong tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Israel, sekaligus menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlangsung.

Meski kedua negara untuk sementara menghentikan aksi saling serang, situasi dinilai masih rentan. Iran mengancam akan kembali melakukan serangan apabila Israel melanjutkan operasi militernya terhadap Hezbollah di Lebanon. Sebaliknya, Israel menyatakan akan memberikan respons besar jika kembali menjadi sasaran serangan.

Trump juga menegaskan bahwa kebijakan blokade Amerika Serikat terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan final terkait program nuklir dan sejumlah isu strategis lainnya.

Harga Minyak Turun, Pasar Fokus Data Inflasi AS

Meredanya ketegangan geopolitik turut mendorong pelemahan harga minyak mentah dunia. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 0,46% menjadi US$90,88 per barel, sedangkan minyak Brent terkoreksi 0,35% ke level US$93,92 per barel.

Selain perkembangan Timur Tengah, perhatian pelaku pasar global pekan ini juga tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dijadwalkan rilis pada Rabu (10/6/2026), sedangkan Producer Price Index (PPI) akan diumumkan sehari setelahnya.

Data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dirilis sebelumnya jauh melampaui ekspektasi pasar. Kondisi tersebut membuat investor mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan lebih mencermati potensi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.

Goldman Sachs Tunda Prediksi Pemangkasan Suku Bunga

Goldman Sachs memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed belum akan memangkas suku bunga hingga 2027. Lembaga keuangan tersebut juga memproyeksikan inflasi Core PCE tetap berada di atas 3% sepanjang 2026.

Perkiraan tersebut didasarkan pada kombinasi faktor berupa tarif perdagangan, tingginya harga energi, serta kuatnya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Bahkan, Goldman Sachs meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga menjadi 20% dari sebelumnya 10%.

Cadangan Devisa Indonesia Menurun

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati perkembangan cadangan devisa Indonesia yang mengalami penurunan. Posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$144,9 miliar, turun dari US$146,2 miliar pada April 2026.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar global.

Tren penurunan itu telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak posisi tertinggi US$156 miliar pada Desember 2025. Secara kumulatif, cadangan devisa berkurang sekitar US$11,1 miliar atau setara sekitar Rp208 triliun.

Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong aman karena setara dengan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada pada level tiga bulan impor.

Danantara Masih Jadi Perhatian Investor

Selain faktor global dan makroekonomi, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan Danantara Indonesia. Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, sebelumnya menegaskan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengambil margin dari aktivitas ekspor komoditas strategis.

Menurutnya, perusahaan hanya akan mengenakan biaya layanan yang berkaitan dengan fungsi pengawasan dan verifikasi ekspor. Namun demikian, pasar kini lebih fokus pada implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2026 yang membuka peluang penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penyertaan modal kepada holding investasi tersebut.

Liza menilai sejumlah ekonom masih mempertanyakan implikasi kebijakan tersebut terhadap risiko fiskal dan akuntabilitas penggunaan dana publik.

"Dengan status baru sebagai instrumen fiskal pemerintah dan kemungkinan memperoleh PMN dari APBN, investor diperkirakan akan semakin mencermati apakah Danantara mampu menjadi katalis investasi nasional atau justru berkembang menjadi tambahan beban bagi fiskal negara," kata Liza.

Bursa Global Bergerak Variatif

Pada perdagangan Senin (8/6/2026), mayoritas bursa saham global bergerak beragam. Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 naik 0,04%, FTSE 100 Inggris menguat 0,05%, sedangkan DAX Jerman turun 0,58% dan CAC 40 Prancis melemah 0,23%.

Sementara itu, Wall Street ditutup mayoritas menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,16%, sedangkan S&P 500 naik 0,30% dan Nasdaq Composite melesat 1,58%.

Di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, indeks Nikkei menguat 0,78% ke level 64.532,00, Shanghai Composite naik 0,30% ke posisi 3.972,60, Hang Seng turun 0,31% menjadi 24.628,00, dan Strait Times menguat 0,77% ke level 5.022,36. Pergerakan bursa global tersebut masih akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah IHSG sepanjang perdagangan hari ini, bersamaan dengan berbagai sentimen ekonomi global dan domestik yang terus berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|